Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Puasa Ramadhan Dan Sifat At Takatsur

Admin 28 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Fenomena sifat At-Takāṡur ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan hedonisme, di mana kepemilikan barang mewah dan branded dianggap sebagai simbol kesuksesan. 

Maraknya fenomena flexing di media sosial, seperti pamer kekayaan, mobil mewah, rumah megah, atau gaya hidup glamor, menunjukkan bahwa banyak orang berlomba dalam kebanggaan duniawi.  

Kredit konsumtif yang meningkat, terutama untuk membeli barang-barang yang bukan kebutuhan utama, menunjukkan kecenderungan manusia untuk terus menambah harta demi gengsi. 

Dalam dunia politik dan bisnis, ambisi memperbanyak kekuasaan dan pengaruh sering kali menyebabkan korupsi, nepotisme, dan perebutan jabatan tanpa mempertimbangkan amanah dan tanggung jawab. 

Politik identitas sering kali digunakan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan, bukan untuk kemaslahatan rakyat, tetapi demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. 

Banyak orang lebih fokus mengejar gelar akademik, sertifikat, atau jabatan tinggi bukan karena ilmu dan pengabdian, tetapi demi prestise dan status sosial.  Persaingan kerja yang ketat mendorong orang untuk menghalalkan segala cara, termasuk suap atau manipulasi data, demi mendapatkan posisi yang lebih baik. 

Masyarakat saat ini sering terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan validasi sosial dalam bentuk likes, views, dan followers di media sosial. Demi ketenaran, banyak orang melakukan hal-hal yang kurang bermakna, bahkan merugikan diri sendiri atau orang lain, seperti membuat konten prank yang berlebihan, pamer kekayaan, atau kontroversi demi viralitas.  

Ada kecenderungan religiusitas yang bersifat simbolik, di mana seseorang lebih menonjolkan aspek luar (pakaian, ritual) tetapi kurang memperhatikan esensi ajaran Islam seperti kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial.  Ibadah sering kali dilakukan bukan karena kesadaran akan akhirat, tetapi agar dianggap sebagai orang yang saleh di mata manusia. 

Surah At-Takātsur adalah surah yang menegaskan bahwa manusia sering lalai karena kesibukan mengumpulkan harta dan kebanggaan duniawi, hingga akhirnya sadar setelah kematian menjemput. Kata “at-takātsur” bermakna perlombaan dalam memperbanyak harta, keturunan, atau status sosial, yang menyebabkan kelalaian dari ibadah dan persiapan menuju akhirat. 

Ayat “Hattā zurtumul maqābir” menunjukkan bahwa kesadaran manusia sering datang terlambat, baru setelah mereka meninggal dunia. Surah At-Takātsur berbicara tentang manusia yang hidup dalam perlombaan menumpuk dunia hingga melupakan hakikat kehidupan. 

Manusia sering menganggap kekayaan dan status sebagai ukuran keberhasilan, padahal hakikatnya kesenangan dunia hanyalah sementara. Surah At-Takātsur adalah peringatan keras tentang kesalahan manusia dalam mengejar dunia tanpa batas. Kata “zurtum” (mengunjungi kubur) menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang lebih hakiki. 

Menurut riwayat dari Ibnu Buraidah bahwa Surah At-Takāṡur turun berkaitan dengan dua kabilah dari suku Quraisy, yaitu Bani ‘Abd Manāf dan Bani Sahm. Kedua kabilah ini berlomba-lomba dalam membanggakan jumlah harta dan keturunan. Mereka saling menyombongkan jumlah pengikut dan kekayaan yang mereka miliki. 

Bahkan, dalam upaya untuk membuktikan keunggulan, mereka sampai pergi ke kuburan untuk menghitung jumlah orang-orang yang telah meninggal dari kabilah mereka, seolah-olah semakin banyak anggota yang pernah hidup dari suatu kabilah menunjukkan superioritas mereka.

Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menegur kesombongan mereka dan mengingatkan bahwa perlombaan duniawi ini akan berakhir dengan kematian, di mana semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Puasa Ramadhan datang sebagai pengingat dan sarana detox jiwa dari sifat At-Takāṡur. Dalam bulan suci ini, kita diajarkan: 

(1) Menahan diri dari kerakusan. Puasa mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang makan, minum, atau harta, tetapi tentang mendekatkan diri kepada Allah; 

(2) Meningkatkan kesadaran akan akhirat. Puasa mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan kita harus menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati; 

(3) Membiasakan hidup sederhana dan berbagi. Zakat dan sedekah selama Ramadhan mengajarkan bahwa kekayaan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk membantu sesama; 

(4) Mengurangi ego dan kesombongan. Saat berpuasa, semua orang merasakan lapar dan haus yang sama, mengajarkan bahwa status sosial tidak ada artinya di hadapan Allah. 

Dengan memahami pesan Surah At-Takāṡur dan mengamalkan nilai-nilai puasa Ramadhan, diharapkan kita bisa lebih sadar bahwa kebahagiaan sejati bukan dalam harta dan status, tetapi dalam ketakwaan dan kebaikan kepada sesama. Wallaahu A’lam.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.