Oleh: KH. Mas'ud Halimin, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam kitab Asrarus Shalat, Imam Muslim meriwayatkan hadist,
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ:{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Artinya : “Rasulullah SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia mohonkan. Maka ketika hambaku berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tuhan semesta alam). Allah SWT berfirman:
حَمِدَنِي عَبْدِي
(Hambaku telah memuji-Ku)
dan ketika seorang hamba berkata:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ِ(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
Allah ‘SWT berfirman:
أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي
(Hambaku telah memujiku)
dan ketika seorang berkata:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(Yang Menguasai di Hari Pembalasan),
Allah berfirman:
مَجَّدَنِي عَبْدِي
(Hambaku telah memuliakan Aku).
dan ketika seseorang berkata:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
ُ(Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan),
Allah SWT pun berfirman:
هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
َ(ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya).
dan saat berkata:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين
(Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ),
Allah pun berfirman:
هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
َ(Ini adalah bagi hambaku, dan bagi hambaku apa yang dia pinta). (HR Muslim).
Dalam kitab Asrarus Shalat dikatakan, orang yang yang sedang melaksanakan ibadah shalat, hendaknya saat sedang membaca QS. Al-Fatihah, dia berhenti sejenak pada setiap ayat, tidak disambung sebagaimana kebiasaan kita selama ini dalam membacanya.
Maka hendaknya pula kita membaca Al-Fatihah dengan tuma'ninah (tenang). Setiap ayat hendaknya berhenti sejenak untuk menerima balasan jawaban dari Allah subhanahu wata'ala sebagaimana hadist di atas. Karena membaca Al-Fatihah saat shalat sama dengan berdialog dengan Allah subhanahu wata'ala, setiap ayat yang dibaca terdapat jawaban dari-Nya.
Perbedaan Cara Membaca Bismillah Dalam Al-Fatihah
Adapun mengenai perbedaan pembacaan bismillahirrahmanirrahim dalam Al-Fatihah antara membacanya dengan jahr atau siir,
Dalam sebuah hadist diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mughaffal, ia berkata:
سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا أُصَلِّي أَقُولُ : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فَقَالَ لِي : أَيْ بُنَيَّ ، إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ ، فَإِنِّي لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُهَا (يعني في الصلاة)
"Ayahku mendengarkan saya sedang salat, saya mengucapkan: 'Bismillahirrahmanirrahim.' Maka ayahku berkata kepadaku, 'Wahai anakku, jauhilah hal-hal yang baru (Al-Hadats)! Sesungguhnya aku tidak pernah melihat seorang pun dari sahabat Rasulullah ﷺ mengucapkannya (yaitu Basmalah) [di dalam shalat].'" (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Tetapi di hadist yang lain, diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyatakan,
كَانَ يَسْتَفْتِحُ بِـ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
"Beliau (Nabi ﷺ) memulai (bacaan shalatnya) dengan Bismillahirrahmanirrahim." (HR. Al-Hakim)
Dan kemudian menegaskan bahwa ini sesuatu yang umumnya dilakukan oleh ahli ilmu, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair dan begitu juga di kalangan tabi'in. Pada umumnya mereka meriwayatkan bacaan bismillah secara jahr (keras).
Jadi dari dua hadist shahih ini, para sahabat ada perbedaan dalam membaca bismillah secara jahr dan siir. Sementara bagaimana dengan kita? Karena kedua perbedaan itu didasari pada hadist yang shahih dengan kualitas yang sama, maka dua-duanya boleh digunakan.
Perbedaan tersebut jangan dijadikan sebagai alasan saling menyalahkan, karena keduanya memiliki dasar dan rujukan, sehingga jika kita temui perbedaan, kita bisa memahami landasan mereka menggunakannya, sehingga agama kita menjadi damai.
Apalagi mengenai perkara shalat ini, Nabi ﷺ bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR Ibnu Malik)
(FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.