Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: Shalat yang Mencegah Kekerasan dan Kebencian

Administrator 24 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: H. Ahmad Muzakkir Abdurrahman 

Kajian Renungan Fajar yang disampaikan H. Ahmad Muzakkir Abdurrahman, di Masjid Istiqlal kembali merenungi makna dan fungsi shalat dalam kehidupan sehari-hari. Shalat bukan sekadar ibadah yang dilakukan lima waktu, melainkan ibadah yang seharusnya memberi dampak nyata dalam membentuk akhlak, menenangkan jiwa, serta menjaga seorang hamba dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: “Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-‘Ankabūt [29]:45)

Ayat ini menjadi cermin bagi setiap muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apakah shalat yang selama ini didirikan sudah benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya? Shalat yang kita kerjakan lima waktu dalam sehari apakah memiliki bekas terhadap kehidupan kita? Atau justru malah sebaliknya? 

Dari ayat tersebut Allah SWT dengan tegas menyatakan fungsi utama shalat yaitu, shalah untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Perbuatan keji dan mungkar bisa dimaknai dengan kekerasan baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun verbal maupun dalam bentuk kebencian, iri dengki, hasud, serta kezaliman kepada sesama. Shalat yang benar dan khusyuk seharusnya menjauhkan seseorang dari sikap mudah marah, mencaci, membully, apalagi menyakiti orang lain.

Ketika shalat dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan, ia akan membentuk karakter yang lembut dan rendah hati. Bacaan-bacaan dalam shalat sarat dengan pujian, doa, dan pengagungan kepada Allah. Gerakan sujud, ketika anggota tubuh yang paling mulia diletakkan di tempat yang paling rendah, mengajarkan makna tawadhu dan penghancuran ego.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda: 

“Sesungguhnya salat itu adalah kekhusyukan, kerendahan hati, ketundukan, penyesalan, serta mengangkat kedua tangan seraya berkata: ‘Ya Allah, ya Allah.’”

Hadis ini menegaskan bahwa salat sejatinya membentuk kelembutan jiwa dan menjauhkan seseorang dari kesombongan serta kemarahan.

Shalat yang khusyuk juga berfungsi sebagai perisai diri dari amarah. Amarah sering kali muncul ketika seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Dalam kondisi demikian, shalat menjadi sarana charging spiritual yang menenangkan hati dan menstabilkan emosi.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam mengendalikan amarah menjadi contoh nyata. Ketika seorang pemuda datang dan meminta izin untuk berzina, Rasulullah tidak serta-merta marah atau menghakimi, melainkan mengajak berdialog dengan empati. Sikap bijak ini lahir dari jiwa yang tenang dan penuh kendali, sesuatu yang hanya bisa dicapai dengan kedekatan yang kuat kepada Allah, salah satunya melalui shalat yang khusyu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ 

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Āli ‘Imrān [3]: 134)

Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan menahan amarah dan memaafkan adalah ciri orang-orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya.

Shalat yang berkualitas akan melahirkan pribadi yang sabar, pemaaf, penyayang, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama. Inilah tujuan utama salat: membentuk kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial. Seorang muslim tidak cukup saleh secara personal, tetapi juga harus menghadirkan kebaikan bagi lingkungannya.

Sebagai penutup H. Ahmad Muzakkir menyampaikan untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki shalatnya agar mencapai derajat kekhusyukan yang lebih baik. Dengan shalat yang khusyuk dan tenang, seorang hamba akan lebih mampu mengendalikan diri, menjaga lisan dan perbuatan, serta menebarkan rahmat dalam kehidupan bermasyarakat.

(VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.