Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Di antara surah yang paling sering dibaca oleh kaum Muslimin adalah Surah Al-Ikhlas. Meskipun hanya terdiri dari empat ayat, surah ini memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah Subhaanahu Wa Ta’aala. Bahkan, kecintaan kepada surah ini menjadi sebab turunnya kabar gembira berupa cinta Allah kepada seorang sahabat Nabi. Dari sinilah kita dapat memahami bahwa keikhlasan bukan sekadar tema dalam Islam, melainkan fondasi utama yang melandasi seluruh amal, termasuk hijrah yang menjadi ruh Tahun Baru Hijriah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ummul Mukminin Sayyidatina ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam pernah mengutus seseorang memimpin suatu pasukan. Dalam setiap shalat yang ia imamkan, setelah membaca surah lain, ia selalu menutup bacaannya dengan Surah "Qul Huwallāhu Ahad." Ketika pasukan tersebut kembali, para sahabat menceritakan kebiasaan itu kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam. Beliau bersabda, "Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukan hal tersebut." Ketika ditanya, orang itu menjawab, "Karena surah itu menjelaskan sifat Ar-Rahman, dan aku mencintainya." Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda, "Beritahukan kepadanya bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’aala mencintainya." (HR. Bukhari, Muslim, dan An-Nasa'i).
Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallamjuga menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas memiliki kedudukan yang sangat agung hingga nilainya menyamai sepertiga Al-Qur'an. Keutamaan yang luar biasa ini mengundang pertanyaan: mengapa surah yang sangat singkat tersebut memperoleh kedudukan demikian tinggi? Jawabannya terletak pada kandungannya. Surah Al-Ikhlas merupakan surah yang memurnikan tauhid dan mengarahkan seluruh penghambaan hanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala. Menariknya, dalam surah ini tidak terdapat satu pun kata "ikhlas". Namun para ulama menamakannya Surah Al-Ikhlas karena siapa saja yang memahami dan menghayati kandungannya akan sampai kepada hakikat keikhlasan. Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang hijrah, kita perlu memulainya dari Surah Al-Ikhlas. Sebab salah satu makna terdalam dari hijrah adalah keikhlasan, dan keikhlasan hanya dapat dibangun di atas fondasi tauhid yang benar.
Tahun Baru Hijriah mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi akidah, akhlak, peradaban, dan orientasi hidup. Hijrah mengubah masyarakat yang tercerai-berai menjadi umat yang bersatu, mengubah ketakutan menjadi harapan, serta mengubah keterbelakangan menjadi peradaban yang menerangi dunia.
Makna hijrah semakin jelas ketika dipahami melalui hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib Al-Qurasyi Al-'Adawi radhiyallahu 'anhu. Beliau meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam: "Sesungguhnya setiap amal disertai dengan niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa inti hijrah bukanlah perpindahan fisik, melainkan perpindahan orientasi hati. Nilai hijrah tidak diukur dari sejauh mana seseorang melangkah, melainkan kepada siapa langkah itu diarahkan. Di sinilah hubungan yang sangat erat antara hijrah dan Surah Al-Ikhlas. Jika hadits ini berbicara tentang pentingnya niat, maka Surah Al-Ikhlas menjelaskan kepada siapa niat tersebut harus ditujukan.
Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa firman Allah, "Qul huwallāhu ahad" menunjukkan bahwa Allah Maha Esa, Mahasuci dari bilangan dan susunan. Allah tidak membutuhkan apa pun dan tidak bergantung kepada siapa pun. Kemudian firman-Nya, "Allāhus-shamad", menegaskan bahwa hanya Allah tempat bergantung seluruh makhluk. Semua harapan, doa, dan permohonan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan global saat ini. Kita hidup pada zaman yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan jabatan, popularitas, kekayaan, jaringan, dan pengaruh. Banyak orang menggantungkan harapan kepada kekuatan dunia yang bersifat sementara. Akibatnya, ketika kehilangan kedudukan, akses, atau pengaruh, mereka kehilangan ketenangan dan arah hidup. Surah Al-Ikhlas mengajarkan hijrah yang lebih mendasar, yaitu hijrah dari ketergantungan kepada makhluk menuju ketergantungan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam juga bersabda melalui riwayat Ummul Mukminin Sayyidatina Aisyah radhiyallahu 'anha: "Tidak ada hijrah lagi setelah dibukanya kota Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Maka apabila kalian dipanggil untuk berjuang, berangkatlah" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun hijrah fisik dari Makkah ke Madinah telah berakhir, semangat hijrah tidak pernah berhenti. Hijrah terus hidup dalam bentuk jihad, yaitu kesungguhan untuk menegakkan kebaikan, memperjuangkan kemaslahatan, membangun ilmu pengetahuan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Di tengah tantangan global berupa krisis moral, ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, konflik kemanusiaan, dan disrupsi teknologi, umat Islam memerlukan spirit hijrah yang berakar pada keikhlasan. Sebab keikhlasan melahirkan keteguhan ketika menghadapi kesulitan, melahirkan kejujuran ketika memegang amanah, melahirkan keberanian ketika memperjuangkan kebenaran, dan melahirkan kesabaran ketika hasil yang diharapkan belum terlihat.
Pada akhirnya, hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap Tahun Baru Hijriah. Hijrah adalah perjalanan sepanjang hayat. Hijrah adalah perpindahan dari orientasi dunia menuju orientasi akhirat, dari ketergantungan kepada makhluk menuju ketergantungan kepada AllahSubhaanahu Wa Ta’aala, dari pencarian pujian manusia menuju pencarian ridha-Nya. Dan seluruh perjalanan itu berawal dari satu fondasi yang kokoh: keikhlasan. Karena itulah Surah Al-Ikhlas menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar surah yang sering dibaca, melainkan kompas yang mengarahkan hati agar seluruh amal, perjuangan, dan pengabdian kita hanya tertuju kepada Allah SWT, Rabb Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Wallaahu a’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.