Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Memahami Nilai Kebenaran di Era Post Truth

Admin 04 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. Phil. KH. Kamarudin Amin, MA (Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI)

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Sebagai ‏pemegang amanah Allah subhanahu wa ta'ala sebagai khalifah fil ardhi, kita dituntut dan diharapkan untuk menjadi wakil Tuhan menjadi representatif Tuhan di muka bumi ini. ‏

Kualitas kekhalifahan kita sangat tergantung dari kualitas dampak yang kita berikan kepada kemanusiaan kepada dunia kepada orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: "Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar."

(QS. An-Nisā'  [4]:114)

Puasa adalah sarana untuk mewujudkan kekhalifah kita yang berkualitas. Karena puasa akan membawa dan menuntun kita untuk menemukan diri kita yang genuine, autentik yang cenderung kepada kebaikan yang cenderung untuk menghindari keburukan.

Kita terus berproses sejak  dilahirkan sampai nantinya meninggal, untuk menemukan ‏jati diri yang autentik dan genuine.

Autentisitas dan genuineness diri akan terefleksi dari kecenderungan kita untuk berbuat baik, kecenderungan kita meninggalkan yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu puasa ini akan membawa kita menemukan versi diri yang hakiki, asli dan genuine.

Namun demikian, puasa bukan hanya tempat, instrumen atau sarana  untuk membakar dosa-dosa. Namun puasa adalah sarana atau instrumen untuk meningkatkan kualitas diri dan berbuat baik kepada orang lain.

Refleksi dari kebaikan dan autentisitas kita ini, refleksinya sangat banyak sekali. Secara internal maupun eksternal, esoteris dan eksoteris kepada diri kita terkait dengan spiritual diri yang semakin berkualitas, hubungan vertikal yang semakin bagus, semakin dekatnya diri kepada Allah SWT, serta kehambaan kita semakin terefleksi dalam kehidupan keseharian.

Secara eksternal, terefleksi dari sejauh mana kita berbuat baik dan berdampak kepada orang lain, berapa banyak orang yang tersenyum karena kebaikan kita, berapa banyak orang yang berubah hidupnya karena kebaikan kita, berapa banyak orang yang hidupnya meningkat karena kekuasaan, kekayaan dan  kelebihan-kelebihan yang kita miliki.

Orang tersenyum bahagia karena mendapatkan refleksi kebaikan kita. Kehidupan orang menjadi baik karena kebaikan kita, karena campur-tangan kita, karena kesejukan, kedamaian, cinta dan kualitas personal yang kita refleksikan dalam kehidupan yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat, umat, dan bangsa ini.

Itulah kualitas dari kekhalifahan kita yang ingin dilahirkan oleh ibadah puasa ini. Orang yang menemukan dirinya yang autentik pasti selalu merefleksikan kedamaian, kesejukan, keindahan, kecintaan.

Rasulullah SAW setiap hari berdoa,

للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام.

Arab Latin: Allahumma antassalam, waminkassalam, wa Ilaika ya'udussalam fahayyina rabbana bissalam wa-adkhilnal jannata daras salaam tabaarakta rabbanaa wata'aalayta yAa dzaljalaali wal ikraam.

Artinya: "Ya Allah, Engkau sumber keselamatan dan dari pada-Mulah datangnya keselamatan dan kepada-Mu kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan, dengan selamat sejahtera dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha banyak anugerah-Mu dan Maha Tinggi Engkau wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan."

Kedamaian, ketenangan, cinta adalah refleksi personal yang seharusnya selalu direfleksikan oleh umat yang berimandan bertakwa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

لَا تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا ، وَلَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوْا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Artinya: "Tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim).

Oleh karena itu filosofi salam adalah filosofi cinta sesungguhnya. Ketika kita menyampaikan salam kepada orang lain, artinya kita kita menyampaikan kepada orang itu bahwa engkau ‏mendapatkan kedamaian dari saya, engkau selamat dari saya, selamat dari kebohongan saya, dari tipu daya saya, dari kejahatan dan segala hal yang membuat Anda menjadi tidak baik.

Itulah kualitas person atau persona-persona yang ingin diproduksi dalam bulan puasa ini. Mari kita jadikan bulan puasa ini sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ‏kehambaan kita, meningkatkan kualitas kekhalifah kita, meningkatkan kualitas refleksi personal kita, dalam interaksi sosial kita kepada masyarakat kita.

Mari kita jadikan puasa ini sebagai instrumen transformasi untuk mewujudkan umat yang bermutu, umat yang berkualitas, khalifah yang berkualitas, khalifah yang cinta damai saling mencintai, saling menyenangkan ‏dan saling mendamaikan.

Di antara kualitas personal yang sangat autentik yang ingin diproduksi dari puasa ini adalah rasa empati, rasa tersentuh melihat penderitaan orang lain, ingin berderma, berbakti mewujudkan ‏kualitas masyarakat dengan terus berderma.

Allah subhanahu wata'ala berfirman,

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Ali ‘Imran Ayat 92)

Jika umat Islam meningkatkan kualitas pengabdian dengan terus berderma dengan tersentuh terhadap penderita orang lain, insyaallah kita akan menciptakan umat ‏dan bangsa yang bemutu nan berkualitas.

Semoga puasa kita tahun ini lebih bagus daripada puasa kita sebelumnya, lebih berkualitas, lebih bermutu dan lebih berdampak, sehingga kualitas diri kita semakin bagus kualitas kehambaan dan kekhalifahan kita semakin meningkat dan menciptakan kualitas masyarakat yang bermutu dan berkualitas. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.