Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Meraih Keberkahan Ramadhan Melalui Kehangatan Sahur dan Adab Bertetangga

Administrator 26 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc., MA,

KH. Bukhari Sail Attahiri pada ceramah mimbar ramadhan menegaskan bahwa indikator kebaikan seorang mukmin dimulai dari kedekatannya dengan keluarga. Sahabat Ibunda

Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهل


Artinya: “Yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ramadhan menjadi momentum emas untuk menghidupkan kembali kehangatan rumah tangga melalui tradisi makan sahur dan berbuka puasa bersama yang penuh keberkahan, di mana nilai-nilai kasih sayang diaplikasikan secara nyata dalam keseharian.

Dalam paparannya, KH. Bukhari Sail mengajak jamaah untuk tidak sekedar mengejar pemenuhan nutrisi saat sahur, melainkan mengejar keberkahan yang telah dijanjikan oleh syariat melalui kebersamaan. 

“Sahur pada dasarnya bukan hanya kita memenuhi nutrisi untuk berpuasa seharian, tapi ada barokah di sana. Makanan yang kita makan nutrisinya mungkin seharian habis, tapi barokahnya tidak akan habis,” jelasnya. 

Sahur bukan hanya soal ketahanan fisik saat berpuasa, namun ada nilai rohani yang melimpah di dalamnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa dalam sahur itu terdapat barokah. 

Selain itu, KH. Bukhari Sail mengimbau agar umat Islam tidak melewatkan waktu sahur dan melaksanakannya di waktu yang utama, yakni mendekati waktu imsak, sebagai bentuk ketaatan dan upaya menjaga keharmonisan hubungan dalam keluarga sejak dini hari.

Lebih lanjut, KH. Bukhari Sail  menyoroti bagaimana Ramadhan harus berdampak positif pada hubungan sosial dan kelestarian lingkungan atau yang dikenal dengan konsep ekoteologi. 

Beliau menekankan pentingnya adab bertetangga dengan mengutip pepatah Arab, "Al-jaru qoblad dar," yang bermakna pilihlah tetangga atau lingkungan terlebih dahulu sebelum menentukan sebuah rumah. 

“Kalau kita mencari rumah, itu yang pertama kali kita utamakan adalah lingkungannya. Sangat penting bagaimana kita akan hidup bersama lingkungan ini. Rumah semewah apapun, jika lingkungannya tidak seirama dengan kita, itu akan sulit,” tegasnya. 

Lingkungan yang harmonis dan toleran akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak, sehingga setiap muslim bertanggung jawab menciptakan suasana lingkungan yang aman dan nyaman, selaras dengan semangat “Ramadhan Hijau” yang mengedepankan kedamaian dan kelestarian alam. 

Sebagai penutup, Dr. KH. Bukhari memberikan renungan tentang hakikat kesalehan seorang manusia yang diukur dari kemanfaatannya bagi sekitar, Beliau memberikan perumpamaan yang menarik dengan menyebutkan bahwa manusia yang saleh adalah manusia yang belum "kadaluarsa" dalam memberikan kebaikan kepada siapapun. 

“Orang saleh itu adalah orang-orang yang tiap malam itu bangun malam dan mendoakan umat, bukan hanya mendoakan diri sendiri. Yang didoakan itu ummah, bagaimana umat ini supaya baik, supaya tentram,” pungkasnya. 

Dengan semangat cinta keluarga dan lingkungan ini, diharapkan setiap mukmin dapat meraih derajat takwa yang paripurna serta doa-doa mereka dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ ala. 

(TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.