Oleh: Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al Munawar, MA
Pada malam Tarawih yang penuh keberkahan, tausiyah disampaikan oleh KH. Said Agil Husin Al Munawar, dengan tema “Puasa dan Pengendalian Hawa Nafsu dalam Al-Qur’anul Karim.” Tema ini mengajak untuk memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menuju derajat takwa.
Dalam Al-Quran, kata yang berkaitan dengan puasa seperti ṣiyām dan ṣaum disebutkan sebanyak 13 kali dalam 11 ayat yang tersebar di enam surah, di antaranya Surah Al-Baqarah, An-Nisa, Al-Maidah, Maryam, Al-Ahzab, dan Al-Mujadilah. Namun, ayat yang secara khusus membahas puasa Ramadhan hanya terdapat dalam empat ayat, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 183, 184, 185, dan 187.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah [2]:183)
Seruan “Ya ayyuhalladzina amanu” merupakan panggilan kemuliaan (khitabut tasyrif wat takrim), menunjukkan bahwa kewajiban puasa adalah kehormatan bagi orang-orang beriman. Tujuan akhirnya ditegaskan dengan kalimat la’allakum tattaqun sebuah jaminan agar manusia mencapai derajat taqwa melalui puasa.
Puasa Ramadan diwajibkan hanya dalam ayyaman ma’dudat hari-hari tertentu. Dalam kalender hijriah, satu bulan hanya terdiri dari 29 atau 30 hari. Allah SWT juga memberikan keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk menggantinya di hari lain.
Sebagaimana firman-Nya:
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran.” (QS. Al-Baqarah[2]:185)
Ayat ini menegaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, bukan kesulitan.
Allah SWT juga menjelaskan:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Artinya: “Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah” (QS. Al-Baqarah[2]:185)
Penentuan awal Ramadhan dapat dilakukan melalui rukyat (melihat hilal) atau penyempurnaan bulan Sya’ban menjadi 30 hari apabila hilal tidak terlihat, Rasulullah SAW bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا
Artinya: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.”
Adapun batas akhir puasa setiap hari ditegaskan dalam firman Allah Swt:
ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ
“Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam” (QS. Al-Baqarah[2]:187)
Puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ketika bilangan hari telah sempurna, umat Islam diperintahkan untuk bertakbir sebagai ungkapan syukur.
Lebih dari sekadar ibadah ritual, puasa adalah sarana pengendalian hawa nafsu. Nafsu yang tidak terkendali dapat menjerumuskan manusia, namun dengan puasa, seorang mukmin dilatih untuk menahan diri—baik dari makan, minum, maupun dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia.
Puasa mengajarkan kesabaran, empati kepada sesama, serta kedisiplinan spiritual. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam hal-hal yang halal pada siang hari Ramadan, maka ia akan lebih mampu menjauhi yang haram di luar Ramadan.
Melalui ibadah puasa, Allah SWT tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga membentuk karakter spiritual seorang mukmin. Ramadhan adalah madrasah kehidupan, tempat kita belajar menahan diri, membersihkan hati, dan memperkuat ketakwaan.
(VISCHA/ HUMAS & MEDIA MASJID ISTQLAL)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.