Oleh: Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag
Rasulullah ﷺ bersabda,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " المَيِّتُ يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ "
Terjemahan: "Dari Anas bin Malik RA, Nabi SAW bersabda: “Orang yang shalat itu sedang bermunajat (berkomunikasi langsung) dengan Rabbnya Azza wa Jalla selama ia berada di tempat shalatnya.” (Shahih Bukhari No. 40)
Orang yang sedang shalat adalah orang yang sedang berdialog, berkomunikasi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagai hamba yang diciptakan-Nya di atas bumi ini, shalat adalah momen paling istimewa bagi kita saat mendekat dan bermunajat kepada Sang Pencipta.
Shalat adalah Ketenangan Jiwa, Bukan Sekadar Kewajiban
Ada sebuah riwayat yang sangat menyentuh hati. Suatu ketika Rasulullah ﷺ berkata kepada Sayyidina Bilal radhiyallahu 'anhu,
يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا
Artinya: "Wahai Bilal, berdirilah (laksanakan iqamah) untuk shalat, dan istirahatkanlah kami dengannya. (HR. Sunan Abu Dawud No. 4985 dan Musnad Ahmad No. 23088).
Ternyata istirahat yang beliau maksud adalah waktu shalat. Bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, shalat adalah ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah yang paling mereka rindukan.
Bandingkan dengan kondisi kita hari ini. Saat azan berkumandang, tak sedikit yang justru mengantuk dan merasa terbebani. Kita memang beristirahat, tetapi istirahat karena kecapekan duniawi bukan ketenangan karena mendekat kepada Allah.
Maka jangan pernah kita memandang shalat hanya sebatas kewajiban semata. Shalat adalah wujud syukur atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan. Kitalah yang berhajat kepada shalat, bukan Allah yang membutuhkan shalat kita.
Kejujuran di Balik Iyyaka Na'budu
Dalam sebuah hikayat disebutkan, ada seorang lelaki yang sedang shalat. Ketika sampai pada ayat iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan" hatinya gelisah. Terdengar seruan dari tempat yang tersembunyi: "Kadzabta!" "Engkau berdusta!"
Tiga kali ia shalat, tiga kali seruan itu datang. Pertama, karena ia lebih menuruti kehendak manusia daripada perintah Allah. Kedua, karena ia lebih taat pada keinginan istrinya daripada panggilan Allah. Ketiga, karena ia lebih sibuk mengurus harta daripada memenuhi panggilan-Nya.
Baru setelah ia benar-benar melepaskan semua yang menghalanginya dari Allah mewakafkan hartanya dan kembali dengan hati yang tulus seruan itu menjawab: "Fa anta 'abdullâh" "Kini engkau benar-benar hamba Allah, dan engkau adalah orang yang tulus memohon kepada-Nya."
Hikayat ini mengajak kita merenungi: sudahkah kata-kata iyyaka na'budu yang kita ucapkan setiap hari benar-benar mencerminkan keadaan hati kita?
Berkah Shalat atas Sebuah Negeri
Beliau mengatakan Syekh Abdurrahman Kelantan dalam kitabnya Al-Jauhar Al-Mauhub mengisahkan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam pernah melewati sebuah desa yang sangat subur airnya bersih, tanahnya makmur, dan penduduknya hidup rukun. Salah satu rahasianya: mereka senantiasa mendirikan shalat.
Tiga tahun kemudian, Nabi Isa a.s. kembali melewati desa yang sama. Kini desa itu telah berubah kering kerontang, airnya keruh, dan sebagian besar penduduknya telah pindah. Ketika ditanya sebabnya, warga menjawab bahwa ada seorang lelaki yang membasuh mukanya di sungai, dan sejak itulah air menjadi keruh lalu mengering. Nabi Isa a.s. bertanya, "Siapa lelaki itu?" Jawabannya singkat namun mengguncang: "Ia seorang lelaki yang meninggalkan shalat."
Hanya satu orang yang meninggalkan shalat, dampaknya menghancurkan satu desa. Maka bagaimana jika mayoritas dari kita berpaling dari shalat? Imam Ibnu 'Athaillah Al-Sakandari dalam Tâj Al-'Arûs pun mengingatkan: "Barang siapa ingin mengetahui posisi dirinya di sisi Allah, maka perhatikanlah keadaannya dalam shalat."
Mari kita jadikan shalat sebagai mahalul munajah tempat kita mengadu, bermunajat, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menegakkan shalat dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
(HERUL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.