Oleh: Dr.KH. Muhammad Ulinnuha, MA
Peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik yang menembus ruang dan waktu, melainkan sebuah manifestasi keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.
Di balik fenomena agung tersebut, tersimpan mutiara hikmah tentang kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia, adab dalam kehidupan sosial, hingga esensi ibadah shalat sebagai tiang agama.
Perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Kendaraan yang digunakan adalah Buraq.
“Buraq itu seakar kata dengan Al-Barq yang artinya kilat atau cahaya. Kecepatannya melampaui suara, bahkan meletakkan kakinya sejauh ujung pandangan matanya,” kata Muhammad Ulinnuha.
Keajaiban ini sering kali dibenturkan dengan logika manusia. Kunci memahami Isra Mi'raj adalah kata "Asra" (memperjalankan). Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā' [17]:1)
Selain itu, Muhammad Ulinnuha menegaskan pentingnya adab bertamu yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril yang senantiasa meminta izin saat melewati setiap lapisan langit.
Meski Jibril adalah Sayyidul Malaikah (pemimpin para malaikat), beliau tidak langsung masuk ke setiap tingkatan langit tanpa izin. Beliau mengetuk pintu dan menjawab pertanyaan penjaga langit dengan santun.
"Jibril saja masuk pintu langit harus izin terlebih dahulu. Ini pelajaran bagi kita, kalau masuk rumah orang jangan langsung nyelonong. Salam dulu, minta izin. Itu bagian dari adab bertamu,” jelasnya.
Muhammad Ulinnuha menerangkan bahwa puncak dari perjalanan rohani Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah diterimanya mandat shalat lima waktu sebagai hadiah terindah bagi umat manusia.
Awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu dalam sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS yang sangat memahami kelemahan umat manusia, Rasulullah SAW berkali-kali kembali memohon keringanan kepada Allah hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu.
“Nabi Musa memberikan masukan karena beliau sudah menguji Bani Israil. Beliau tahu umat Nabi Muhammad tidak akan kuat dengan 50 waktu," terangnya.
Hal ini juga menjadi dalil bahwa para nabi dan kekasih Allah tetap bisa memberikan manfaat meski telah wafat atas izin-Nya.
Meski jumlahnya dikurangi menjadi lima, Allah Maha Rahman tetap memberikan pahala yang setara dengan 50 waktu. “Setiap shalat itu mendapat fadilah ganjaran pahala sepuluh kali lipat. Jadi lima waktu yang kita laksanakan, dipahalai lima puluh,” tambahnya
Sebagai penutup, KH. Muhammad Ulinnuha mengingatkan bahwa shalat adalah garis pembeda antara iman dan kekufuran. Beliau menekankan pentingnya menjaga shalat di atas segala amal lainnya, karena shalat adalah tiang bangunan agama.
“Kalau shalatnya baik, insyaallah seluruh amalnya baik. Tapi kalau shalatnya rusak, maka amalnya yang lain juga akan sia-sia,” pungkasnya.
Mari kita jadikan peringatan Isra Mi'raj ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita. Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana "Mi’raj" bagi setiap mukmin untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. (TANZA/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.