Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Lima Sebab Tumbuhnya ‘Al-Ulfah’, Kenyamanan dalam Persatuan

Admin 13 Jul 2026 Warta Istiqlal

Taisirul Khalaq karya Syekh Hafiz Hasan Al-Mas'udi
Oleh : KH. Mahrus Iskandar, Lc., MA

Secara bahasa, Al-Ulfah (الأُ لْفَة) bermakna kenyamanan, ketenangan, atau kebahagiaan ketika seseorang berada atau bertemu dengan manusia lainnya. Sifat inilah yang sejatinya diajarkan oleh Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin). KH Mahrus menekankan bahwa Islam adalah agama yang lurus namun penuh kelembutan dan kelapangan (dinun layyinun hanafiyun samhah).

Dalam kitab Taisirul Khalaq, disebutkan bahwa ada 5 sebab yang dapat menumbuhkan rasa nyaman dan persatuan (Al-Ulfah) di antara manusia. Pada kajian kali ini, beliau menjabarkan beberapa sebab utama tersebut, di antaranya:

1. Addinu (Agama)

Sebab utama munculnya kedamaian dan kenyamanan antarsesama adalah landasan agama karena kesempurnaan iman seseorang secara otomatis akan melahirkan rasa kasih sayang (yujibu al-atfa). KH Mahrus mencontohkan bagaimana Rasulullah ﷺ selalu mengedepankan ketenangan dan kelembutan, bahkan ketika menghadapi orang-orang yang bersikap kasar atau mengganggu beliau.

2. Anasabun (Nasab atau Kekerabatan)

Hal ini bisa menumbuhkan Al-Ulfah karena sifat dasar manusia cenderung mengarah pada rasa sayang kepada kerabat atau sanak saudaranya serta enggan menyakiti mereka. Beliau berpesan agar hubungan kekerabatan yang harmonis harus senantiasa dijaga demi tegaknya persatuan umat. 

Bahwasannya sesama saudara seiman maupun kerabat perlu senantiasa menunjukkan ketulusan kasih sayang saat bertatap muka, bukan sekadar bersikap manis di depan namun memendam ketidaksetujuan di belakang. 

3. Al-Musyaharah (Hubungan Pernikahan/Keluarga Besan)

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan juga memperluas tali persaudaraan dengan keluarga pasangan. KH Mahrus mencontohkan keteladanan Rasulullah ﷺ yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan kerabat Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha. Melalui jalur musyaharah ini, rasa benci di antara dua kelompok dapat terkikis dan berubah menjadi rasa cinta. 

4. Al-Birru (Kebaikan dan Ihsan)

Sebab berikutnya adalah berbuat baik atau ihsan kepada sesama manusia. Pemateri menggarisbawahi bahwa tingkatan ihsan yang sesungguhnya adalah tetap berbuat baik bahkan kepada orang yang telah berbuat buruk kepada kita (man ahsana ila man asaa ilaih). 

KH Mahrus juga mengutip bait syair Arab: "Ahsin ilan-nasi tastab'id qulubahum" (Berbuat baiklah kepada manusia, niscaya engkau akan menundukkan hati mereka).

Sebagai penutup dari pilar kebaikan ini, beliau mengingatkan bahwa salah satu kebaikan paling mudah yang bisa dipraktikkan sehari-hari adalah dengan menebar senyuman kepada sesama. 

Hal ini berlandaskan pada hadits Nabi ﷺ yang bernilai shahih:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya: "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR. At-Tirmidzi)

Semoga selalu ada jalan supaya kebaikan dan keharmonisan antar sesama itu senantiasa terjalin dalam kehidupan sehari-hari.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.