Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah Peristiwa Isra Mikraj

Admin 07 Jan 2025 Warta Istiqlal

OLEH DR. KH. MUCHLIS M. HANAFI M.A 
Direktur Pusat Studi Al-Qur’an
 

Jakarta, www.istiqlal.or.id – Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satu peristiwa yang terjadi di bulan Rajab ini menurut sebagian sejarawan adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, memang para ulama dan para sejarawan berbeda dalam menetapkan kapan peristiwa itu terjadi, ada yang berkata bahwa peristiwa itu terjadi di bulan rabiul awal, yang lain berkata terjadi di bulan Rajab, yang pasti Isra dan Mi’raj itu terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah terlepas dari kapan peristiwa itu terjadi tentu ketika kita memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj ini kita sedang mengembalikan ingatan kita akan peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Jadi kita memperingatinya itu adalah dalam rangka kita mengagungkan Rasulullah SAW dalam rangka kita menunjukkan kecintaan kita kepada Rasulullah. Kita dapat menarik hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, oleh karena itu dengan memperingati Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, kita berharap dapat memperoleh keberkahan dari Rasulullah SAW, selain tentu saja kita menarik hikmah apa yang bisa kita jadikan petunjuk pedoman dan pelajaran dalam hidup kita di dunia ini.

Peristiwa Isra dan Mi’raj sebagaimana kita ketahui bersama adalah peristiwa diperjalankannya Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu dari Masjidil Aqsa naik atau Mi’raj sampai ke sidratul muntaha. Peristiwa ini tentu diluar batas kemampuan akal dan nalar manusia, peristiwa ini membuktikan bahwa kuasa Allah subhanahu wa ta’ala itu menembus batas-batas ruang dan waktu, itulah yang disebut dengan mukjizat. Oleh karena itu kita menyikapi peristiwa Isra dan Mi’raj ini dengan pendekatan iman bukan dengan pendekatan nalar, dalam beragama kita harus bisa menyisakan ruang dalam hati kita untuk meyakini hal-hal yang tidak masuk akal.

Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, kita tidak ingin berbicara tentang rincian peristiwanya tetapi pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut. Hal yang pertama adalah peristiwa Isra dan Mi’raj itu terjadi setelah Rasulullah SAW ditinggalkan oleh dua orang yang selama ini mendukung dan mengayomi dakwah Rasulullah, yang pertama Sayyidah Khadijah, yang kedua adalah pamannya Abu Thalib. Nabi mengalami apa yang disebut dengan Amul Huzn tahun kesedihan, dari sini maka kita ketahui penindasan dari orang-orang kafir Mekkah itu semakin berani dan semakin meningkat kesedihan Rasulullah rasakan.

Diberangkatkanya dan diperjalankannya Rasulullah dalam Isra dan Mi’raj itu menunjukkan bahwa habis gelap terbitlah terang, bahwa di ujung di berbagai macam kesulitan itu ada harapan, Rasulullah SAW diperjalankan untuk memberikan kekuatan morin untuk menunjukkan bahwa beliau sebenarnya adalah orang yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjalankan misi besar itu. Sebelum Rasulullah SAW diperjalankan, dalam beberapa kisah disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengalami apa yang disebut dengan peristiwa dibedahnya dada Rasulullah SAW, hal itu dikisahkan sebelum Nabi diperjalankan.

Peristiwa ini sebenarnya terjadi beberapa kali dalam sejumlah dua ayat dikabarkan itu terjadi pertama ketika Rasulullah SAW masih dalam pengasuhan Halimatussadiyah ketika sedang bermain-main dengan teman sebayanya, datang malaikat lalu kemudian membaringkannya kemudian dibedah dadanya, dicuci qolbunya dengan air zam-zam, yang kedua ketika Rasulullah SAW akan diangkat sebagai Nabi dan Rasul, dan yang ketiga sebelum diperjalankan dalam Isra dan Mi’raj. Peristiwa ini  sekali lagi di luar nalar manusia, kita hanya bisa mengimaninya karena itu diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih apa yang bisa kita tarik dari peristiwa ini, bahwa Rasulullah sejak dini sudah dipersiapkan untuk mengemban risalah dan ini adalah tugas yang sangat besar, oleh karena itu perlu dipersiapkan segala sesuatunya, disinilah ketika Al Qur’an berkata “ اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَضْرَكَ”  yang artinya bukankah telah kami lapangkan dadamu, antara lain menurut sebagian ulama itu terjadi melalui disucikannya hati Rasulullah SAW sebelum diperjalankan dalam Isra dan Mi’raj dan ketika masih kecil serta ketika akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul hal ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju kebahagiaan, perjalanan panjang harus dimulai dari titik kesucian, itulah jika dalam kehidupan Rasulullah SAW itu dilakukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril dalam peristiwa, bagi kita umatnya tentu kita tidak perlu melakukan apa yang terjadi pada Rasulullah SAW, tetapi beliau telah mengajarkan kepada kita untuk selalu senantiasa bertaubat kepada Allah SWT untuk memperbanyak istighfar, kita memohon ampunan kepada Allah SWT agar hati kita ini senantiasa selalu bersih, jiwa kita ini terlalu selalu dalam keadaan suci.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak istighfar untuk sering bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, itulah cara kita memulai segala sesuatu dengan kesucian batin dengan kebersihan hati dan jiwa kita ini, dan itu akan menjadi kinerja positif, menjadi modal kekuatan yang sangat besar sekali untuk menghadapi berbagai macam tantangan dalam kehidupan kita ini segala sesuatu kita mulai dari titik nol dan itulah titik kesucian yang bisa kita peroleh melalui taubat dan istighfar. Hal yang ketiga yang bisa kita tarik dari peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah ketika dalam perjalanan itu Rasulullah disuguhkan oleh Malaikat Jibril beberapa pilihan minuman, hal itu dalam kisahnya disebutkan ketika Malaikat Jibril menempatkan Burok di sebuah tempat yang sekarang ini masih diabadikan sebagai Haid Alburaq di Masjidil Aqsa. Setelah itu Rasulullah masuk masjid shalat dua rakaat dan setelah itu Malaikat Jibril menyuguhkan tiga cawan atau bejana yang berisi satu susu, yang kedua madu, yang ketiga khamr, lalu apa yang dipilih oleh Rasulullah SAW, beliau memilih susu dan ketika susu yang dipilih, Malaikat Jibril berkomentar dengan mengatakan itulah fitrah yang diatasnya kamu tercipta.

Fitrah itu adalah asal kejadian, ini menunjukkan bahwa manusia sejak awal kejadiannya, sejak awal mula diciptakan, yang pertama kali dia konsumsi adalah susu dan susu inilah yang membentuk pertumbuhan badan mansuia. Oleh karena itu, susu itu adalah fitrah, hal itu salah satu makna yang dikemukakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, ada lagi yang mempersamakan bahwa susu yang dipilih oleh Rasulullah SAW karena dibandingkan dengan madu, madu itu enak manis tetapi tidak enak ditelan kalau dalam jumlah banyak, khamr itu memang ada manfaatnya tetapi dalam Al-Qur’an dikatakan mudharatnya juga tidak kalah banyak, jika dibandingkan dua minuman ini, maka susu itu adalah pilihan yang terbaik dan susu ini menggambarkan karakter dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah, ini dapat kita lihat dari dua sisi, yang pertama adalah asal kejadian susu yang hampir sama denga nasal mula ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yang kedua adalah sifat dari susu itu sendiri yang berkesesuaian dengan sifat dari ajaran agama Islam, ini bisa kita lihat dari sebuah ayat yang menjelaskan tentang proses terjadinya susu dalam tubuh hewan, disitu dikatakan meski dari perut hewan itu Allah subhanahu wa ta’ala keluaran susu diantara kotoran, darah, susu yang murni mudah untuk dikonsumsi, ini adalah asal mula kejadian susu yang sama dengan ajaran agama Islam.

Islam itu lahir untuk menyempurnakan ajaran-ajjaran yang terdahulu yang sangat dominan itu adalah Yahudi dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Musa a.s, lalu kemudia Injil yang dibawa oleh Nabi Isa a.s, dua ajaran ini dalam beberapa ayat Al-Qur’an dikatakan telah dinyatakan berlebihan, maka Islam itu lahir untuk menyempurnakan kedua ajaran ini memoderasi sikap hulu yang ada pada dua ajaran ini Islam lahir tengah-tengah antara itu sebagaimana susu itu adalah lahir dari hasil olahan makanan yang masuk ke dalam perut binatang dari hasil olahan itu ada yang menjadi saripati makanan yang dialirkan oleh darah dan ada yang menjadi ampas yang disebut dengan kotoran, diantara darah yang berwarna merah dan kotoran yang berwarna hijau atau coklat itu keluarlah susu yang berwarna putih murni itu dari asal kejadiannya dan yang kedua dari sifat dan karakter ajaran agama Islam itu sendiri yang dalam ayat tadi dikatakan mudah untuk dikonsumsinya itu lezat, bagi siapapun yang mengkonsumsinya itulah karakter ajaran agama Islam yaitu mudah untuk dilaksanakan, tidak ada yang menyulitkan dalam ajaran Islam, itulah karakter dan agama Islam yang tidak mengenal ekstrimisme, yang tidak mengenal sesuatu yang sulit dalam menjalankan ajaran ini kita diberikan banyak kemudahan.

Allah menghendaki kemudahan, tidak menghadapi kehendaki kesulitan, Allah tidak menciptakan sesuatu yang menyulitkan dalam agama ini, itulah tampil dari ajaran Islam dengan susu yang diceritakan prosesnya dalam Al-Qur’an dan ini menjadi simbol dari pilihan atau pilihan Rasulullah SAW terhadap susu itu adalah simbol dari karakter dan sifat ajaran yang dibawanya. Oleh karena itu melalui peristiwa ini mari kita hadirkan ajaran agama Islam yang memberikan kemudahan yang memberikan kedamaian yang menciptakan kebahagiaan bagi masyarakat luas. (RST/Humas dan Media Masjid Istiqlal).

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.