Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Hari raya 'Iedul Fithr bukan sekadar penanda berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi sebuah momentum spiritual yang mengajak manusia kembali kepada jati dirinya yang paling murni. Kata fitri berasal dari akar kata Arab “fathara yang bermakna membuka, memulai, atau menciptakan dari asalnya. Dari akar kata inilah lahir kata fithrah, yaitu keadaan asli manusia yang suci dan lurus.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu; tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”(QS. Ar-Ruum: 30).
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan kecenderungan kepada tauhid, kepada kebaikan, dan kepada kebenaran. Karena itu Idul Fitri pada hakikatnya adalah hari kembalinya manusia kepada fitrah, setelah jiwa ditempa dan dibersihkan selama bulan Ramadhan.
Ramadhan melatih manusia untuk menahan diri dari hawa nafsu, membersihkan hati dari kesombongan, serta menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Namun penyucian itu tidak berhenti pada ibadah pribadi.
Syariat Islam menetapkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa agar kesucian jiwa juga diwujudkan dalam kepedulian sosial. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa zakat fitrah merupakan penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan sebagai makanan bagi orang miskin.
Dengan demikian, kesucian fitri bukan hanya berarti bebas dari dosa, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi sesama manusia.
Di sinilah makna rahmah menemukan tempatnya. Kata “rahmah” berarti hubungan kasih sayang, kelembutan, dan karunia yang meliputi kehidupan. Akar katanya sama dengan “rahim, rahmiyyah” atau hubungan kekerabatan. Dalam bahasa Arab, rahim menjadi simbol tempat pertama manusia dilindungi dengan penuh kasih. Karena itu tidak mengherankan jika Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah subhaanahu wa ta'aala mengaitkan kata rahim dengan nama-Nya sendiri, menegaskan bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari manifestasi rahmat-Nya di bumi. Maka Hari Fitri adalah hari rahmah.
Setelah hati dibersihkan oleh puasa dan amal ibadah, manusia kembali dipanggil untuk hidup dalam kasih sayang. Pada hari ini, tangan-tangan saling berjabat, hati saling memaafkan, dan hubungan yang mungkin pernah renggang kembali dirajut.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim. Karena itu Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan pribadi, tetapi juga perayaan kemanusiaan yang dipenuhi kehangatan dan kebersamaan.
Tradisi mudik yang hidup di masyarakat kita adalah gambaran nyata dari nilai rahmah ini. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk bertemu orang tua, saudara, dan keluarga besar. Secara lahiriah ini adalah perjalanan pulang, tetapi secara batin ia adalah perjalanan kembali kepada akar kehidupan. Di rumah orang tua, manusia mengingat kembali masa kecilnya; di tengah keluarga, ia menemukan kembali makna kasih yang tulus.
Tidak jarang perjalanan ini juga diiringi dengan ziarah kubur, mengunjungi makam orang tua dan leluhur yang telah mendahului kita. Di hadapan pusara, manusia diingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan yang bermula dari tanah dan akan kembali kepada tanah. Di tengah suasana penuh haru dan syukur itu, hati seorang mukmin sering terucap doa yang penuh harapan: َ
نَسْأَلُ اللهَ فَضْلًا وَنِعْمَةً وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً، يَا تَوَّابُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Kami memohon karunia dari Allah, nikmat, ampunan, dan rahmat-Nya. Wahai Yang Maha Penerima tobat, wahai Yang Maha Luas ampunan-Nya, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Ungkapan ini sarat dengan makna yang dalam. Kata fadhl berarti karunia yang diberikan bukan karena kelayakan manusia, tetapi karena kemurahan Allah subhaanahu wa ta'aala. Ni'mah adalah nikmat yang menghidupkan hati dan kehidupan.
Maghfirah adalah ampunan yang menutup dosa manusia dengan kasih sayang-Nya. Sedangkan rahmah adalah rahmat yang meliputi segala sesuatu. Dalam doa itu pula kita memanggil Allah subhaanahu wa ta'aala dengan tiga nama yang penuh pengharapan: Ya Tawwab, Yang senantiasa menerima tobat; Ya Wasi'al Maghfirah, Yang ampunan-Nya luas tanpa batas; dan Ya Arhamar Rahimin, Yang paling penyayang di antara semua yang penyayang.
Ketika do'a ini diucapkan pada Hari Fitri, sesungguhnya ia menjadi pengakuan bahwa manusia kembali kepada fitrah bukan hanya karena usaha dirinya, tetapi karena rahmat Allah yang luas. Manusia dibersihkan oleh puasa, disempurnakan oleh zakat fitrah, dan dipersatukan kembali oleh silaturrahim, semuanya berada dalam naungan rahmah Ilahi.
Pada akhirnya, Rahmah di Hari Fitri mengajarkan bahwa kesucian sejati tidak berhenti pada satu hari perayaan. Ia harus terus hidup dalam keseharian manusia dalam ketaatan kepada Allah subhaanahu wa ta'aala, dalam kasih sayang kepada keluarga, dan dalam kepedulian kepada sesama.
Jika rahmah itu terus dijaga, maka setiap langkah kehidupan akan terasa ringan, setiap hubungan terasa hangat, dan setiap hari dapat menjadi hari fitri, hari di mana hati kembali bersih dan rahmat Allah subhaanahu wa ta'aalamenaungi kehidupan manusia. Wallaahu a'lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.