Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kalau kita baca Al-Qur’an, kita sering menemukan wasiat “bertakwalah kepada Allah.” Pesan ini bukan sekadar nasihat, tapi kunci hidup seorang muslim. Allah subhanahu wata'ala firmankan dalam Al-Qur’an,
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ ِ
“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah ayat 197)
Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Al-Baqarah [2]:197)
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ
“Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah” (HR. Muslim)
Artinya, seorang istri bukan cuma “partner hidup” biasa. Dia adalah amanah besar dari Allah. Akad nikah yang cuma beberapa detik itu bukan sekadar formalitas atau acara seremonial. Itu adalah janji berat di hadapan Allah janji untuk menjaga, menafkahi, mendidik, dan melindungi dengan penuh kasih sayang.
Sayangnya, banyak orang sekarang lebih sibuk mikirin dekorasi resepsi, gaun, dan pesta, daripada merenungi arti besar dari pernikahan itu sendiri. Akhirnya rumah tangga jadi gampang rapuh, sedikit masalah langsung goyah.
Di sisi lain, fenomena lain muncul: banyak anak muda justru takut untuk menikah. Alasannya macam-macam: takut belum mapan, takut gagal, takut nggak siap. Akhirnya mereka memilih jalan “abu-abu”: pacaran lama tanpa kepastian, atau menjalin hubungan tanpa status yang jelas.
Padahal, Islam tuh mempermudah banget urusan pernikahan. Allah bahkan bilang, nafkah itu sesuai kemampuan masing-masing. Bukan harus kaya dulu, bukan harus punya segalanya dulu.
Justru lewat pernikahan lah seseorang bisa menjaga kehormatan, dapat ketenangan, dan merasakan kasih sayang yang sejati. Allah sendiri menegaskan:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rūm [30]:21)
Rasulullah ﷺ juga menekankan batasan dalam rumah tangga. Salah satunya: seorang istri tidak boleh mengizinkan orang yang tidak diridai suaminya masuk ke rumah. Kalau dulu bentuknya mungkin tamu asing, zaman sekarang bisa lebih “halus”: pergaulan bebas, chat pribadi, atau akses media sosial yang kebablasan.
Semua ini bisa jadi celah yang merusak rumah tangga.
Rasa cemburu yang sehat justru tanda iman. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah pun memiliki “cemburu” ketika hamba-Nya melanggar apa yang diharamkan.
Jadi kalau ada suami atau istri yang saling menjaga dengan cara baik, itu sebenarnya bukti cinta sekaligus iman. Takwa kepada Allah harus tercermin dalam cara memperlakukan wanita. Bukan hanya salat, puasa, atau tilawah yang menunjukkan ketakwaan kita. Tapi juga bagaimana kita menghormati istri, ibu, atau anak perempuan kita.
Jadi, kalau mau tahu kualitas seorang laki-laki, lihatlah bagaimana ia memperlakukan istrinya. Karena pernikahan bukan cuma tentang cinta, tapi juga tentang amanah dan tanggung jawab di hadapan Allah. (NADIEN/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.