Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Jika Alam Menagih Hak-haknya

Administrator 25 Jun 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. Moh. Mahfud MD
(Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta)

Sebagai khatib, saya wajib mengajak kita semua untuk menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Maka marilah kita jaga dan perkuat ketaqwaan kita kepada Allah, agar kita meninggalkan dunia ini kelak dalam keadaan muslim. Hidup dengan taqwa bukan hanya kewajiban tetapi juga merupakan kebutuhan kita sebagai manusia. Salah satu arti atau implementasi taqwa adalah selalu berdzikir yang berarti selalu mengingat Allah, mematuhi segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Kalau kita selalu berdzikir maka hati akan tenang karena ada rasa aman dan nyaman. Rasanya tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini dibandingkan dengan ketenangan karena rasa aman dan nyaman. Oleh sebab itu mari kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya agar memperoleh keamanan dan kenyamanan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dari satu perspektif taqwa kita dapat dilihat dari habl (perjanjian dan hubungan baik) dengan Allah, hubungan baik dengan sesama manusia, dan hubungan baik dengan alam lingkungan hidup kita.

Pada umumnya kita mengambil dalil naqly bahwa taqwa itu dilakukan dengan berpegangan habl dari dengan Allah dan habl dengan manusia agar kita tidak ditimpa musibah atau bencana, sesuai dengan ayat dalam Qur’an (Surat Ali Imran ayat 112). 

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ 

Mereka diliputi kehinaan dimanapun mereka berada kecuali mereka yang berpegang pada tali (perjanjian/hubungan baik) dengan Allah dan berpegangan pada tali antar manusia

Namun berdasar dalil naqly juga, implementasi ketaqwaan itu juga terkait dengan hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya. Habl dengan Allah berati kita akan selalu tunduk dan patuh kepada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah. Habl dengan manusia berarti kita akan selalu berbuat baik kepada sesama manusia, menghormatinya, menjaga hak-haknya dan saling tolong menolong. Singkatnya dalam hubungan antar sesama manusia kita harus berbuat adil dan ihsan. Adapun menjaga hubungan dengan alam dan lingkungan hidup adalah menjaga hak dan posisi alam sebagai sesama ciptaan Allah agar dari sudut ekosistem kita bisa hidup aman dan nyaman. Seringkali terjadi manusia mengabaikan hubungan baik (habl) dengan alam sehingga mengundang musibah dan bencana karena alam memprotes atau menagih hak-haknya untuk tidak dirusak. 

Allah menciptakan alam sebagai lingkungan hidup dengan hak dan posisi yang masing-masing mempunyai peran penyeimbangan dalam perjalanan alam semesta. Allah membangun keseimbangan antar mahluk. Yang punya hak bukan hanya manusia tetapi alam juga mempunya hak intrinsik. 

Terkadang manusia abai atas kewajibannya menjaga hubungan baik dengan alam dengan merusaknya melalui eksploitasi untuk mengeruk manfaat tanpa merawatnya sehingga alam mengirim tagihan atas hak-haknya berupa bencana. Bencana bisa diartikan sebagai reaksi alam karena habl manusia dengannya dirusak seperti terjadinya banjir besar dan longsor karena penebangan hutan dan pepohonan, merebaknya penyakit karena pembuangan limbah secara sembarangan, rusaknya fisik manusia secara massal karena kimia persenjataan yang tidak terkendali, dan sebagainya.

Kalau misalnya terjadi bencana alam, itu bisa disebut sebagai reaksi alam yang menuntut haknya untuk menjaga agar manusia menjaga kelestarian lingkungan dalam keseimbangan dari kerusakan karena tingkah manusia yang melampaui batas.

Oleh sebab itu dalam rangka hidup aman dan nyaman itu mari kita perbaiki hubungan kita dengan alam. Sekarang alam tidak boleh hanya dipandang sebagai obyek eksploitasi untuk mengeruk manfaat tetapi alam harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem kehidupan yang kita pun menjadi bagiannya. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi melainkan juga mengejar keseimbangan atau harmoni ekosistem.

Alam tidak boleh dijadikan obyek kapitalisme-eksploitatif semata seperti dalam eksploitasi tambang, deforestasi, dan pembangunan tanpa batas ekologis. Karena itu semua bisa memancing alam untuk bereaksi keras menuntut hak-hak instrinsiknya.

Kita harus membangun etika penghormatan terhadap alam dengan menyadari bahwa kehidupan kita terjalin dalam saling ketergantungan ekosistem dengan alam. Kita harus menyadari bahwa di bumi ini ada pohon yang harus tumbuh, ada sungai yang harus mengalir bersih, ada ikan yang tidak keracunan, ada laut yang tidak tercemar atau rusak terumbu karangnya, dan ada generasi mendatang yang harus mewarisi berkah dari alam. 

Manusia harus menjaga kebijaksanaannya  untuk menghormati batas-batas moral dalam memperlakukan bumi seperti dipesankan dari firman Allah (QS Al-Baqarah ayat 205) bahwa “jika manusia berpaling dari Allah (atau tidak lagi bertaqwa) maka ia mau merusak bumi dan membinasakan tanaman serta hewan ternak padahal perilaku merusak yang  seperti itu tidak disukai oleh Allah.”

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ۝٢٠٥

Dengan demikian menjaga alam bukan sekedar menjadi kewajiban ekologis tetapi lebih dari itu harus dijadikan sebagai kewajiban moral. Peradaban yang perlu kita bangun adalah bagaimana kita bisa hidup harmoni bersama alam.

Persoalan lingkungan hidup adalah persoalan moral yang bukan hanya berbicara tentang berapa keuntungan yang didapat dari eksploitasi atas alam tetapi juga harus disertai dengan kesadaran moral bahwa kita tidak akan merusaknya. Kita harus menyadari bahwa alam bukan sekedar alat kita tetapi ia mempunyai martabatnya sendiri.

Merusak alam berarti merusak kehidupan ummat manusia sekaligus merusak hak hidup layak bagi generasi mendatang. Ingatlah bahwa dari sudut agama manusia bukan penguasa bumi tetapi penjaga bumi atau wakil Tuhan (khalifah) untuk menjaga kebaikan di bumi. Kita tidak boleh mengukur kemampuan kita dengan hanya kemampuan menaikkan pertumbuhan ekonomi dan memperlakukan alam secara ekspolitatif. Kita harus menjaga hak-hak alam. Menghormati hak alam adalah menghormati hak manusia. Saat ini kita perlu kesadaran moral dan etika baru yang lebih menghormati hak alam sebagai bagian dari etika penghormatan terhadap kehidupan semua makhluk ciptaan Allah. 

Salah lah jika kita merasa diri sebagai penguasa bumi sebab sesungguhnya manusia hanya “khalifah” yang merupakan sebagian kecil dari jaringan kehidupan di alam yang luas. Marilah jalani hidup tanpa keserakahan dengan tetap bekerja keras agar berkecukupan. Jangan serakah karena keserakahan berpotensi untuk menghancurkan baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat dan alam sekitar.

Menjaga alam bukan sekedar kewajiban ekologis melalui pengaturan dengan hukum lingkungan tetapi lebih dari itu adalah kewajiban moral. Alam bisa menuntut hak-haknya yang terkadang ringan tetapi bisa menjadi tuntutan dan tagihan yang sangat berat seperti bencana alam atau merebaknya hama yang menimbulkan korban manusia secara massal. Tagihan alam atas hak-haknya ini sering terjadi dalam sejarah ummat manusia melalui proses sunnatullah sebab hak tagih itu diberikan oleh Allah seperti yang difirmankan-Nya di dalam Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١ 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disrbabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian akibat dari perbuatan mereka agar mereka kembali” 

Ada juga larangan yang keras dari Allah SWT agar kita tidak membuat kerusakan di bumi seperti firman-Nya dibdalam Qur’an Surat al-A’raf  ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٥٦

Dan jangan kamu membuat kerusakan di bumi Setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik”.


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.