Oleh: Syaikh Akbar KH. Muhammad Fathurahman, M.Ag.
(Mursyid Tarekat Al Idrisiah)
Hadirin Rahimakumullah, Segala puji semata milik Allah, Yang pertama tanpa awal, dan Yang terakhir tanpa akhir, yang tampak tidak ada yang melebihi-Nya, Yang tersembunyi, tidak ada yang selain-Nya, Maha Suci Dia dari apa yang dikatakan orang-orang yang zalim. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, yang tidak ada Nabi setelahnya, beserta para keluarga yang suci, para sahabat yang mulia, dan seluruh pengikut setianya yang istiqamah meniti jalan cahaya hingga akhir zaman.
Bagi para waliyullah - para kekasih Allah - jiwa mereka senantiasa terjaga dalam kesadaran spiritual yang sangat tinggi. Qalbu mereka menyadari dengan seyakin-yakinnya bahwa diri mereka berada dalam genggaman dan kendali mutlak Allah SWT. Setiap saat, hati mereka menyaksikan bahwa segala apa yang melekat pada diri dan kehidupan ini adalah semata-mata pemberian dari-Nya.
Ketika seorang wali memandang kemegahan gunung yang menjulang tinggi, pandangan batinnya (bashirah) menembus melampaui materi batu dan tanah tersebut. Hatinya langsung bersaksi: "Engkaulah, ya Allah, Sang Maha Pencipta di balik semua keindahan ini."
Kesadaran makrifat seperti inilah yang menjadi tujuan utama. Jalan untuk menata hati, mendaki tangga spiritual, dan menyempurnakan seluruh ajaran Islam itu disebut dengan Tarekat, sebuah jalan bimbingan kerohanian di bawah arahan ketat para ulama yang mursyid (pembimbing spiritual).
Hadis Jibril: Fondasi Tiga Pilar
Hadirin Rahimakumullah, Agama Format ideal dari ajaran agama kita telah diuraikan secara ringkas namun padat oleh Malaikat Jibril alaihis salam. Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah hadis yang sangat monumental, yakni Hadits Jibril. Peristiwa ini sangat istimewa dan jarang terjadi, karena biasanya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu langsung ke dalam fuad (lubuk hati terdalam) Nabi Saw tanpa menampakkan wujud fisik di depan orang banyak.
Namun pada hari itu, Malaikat Jibril turun dan menjelma menjadi seorang manusia dengan penampilan yang sangat kontras dan memikat:
1. Seorang pemuda dengan rambut yang hitam legam. Tidak tampak tanda-tanda kelelahan atau debu perjalanan jauh pada dirinya.
2. Pakaiannya putih bersih, rapi, dan menebarkan aroma yang sangat harum.
Penampilan Jibril yang bersih dan harum ini membawa pesan tersirat tentang etika beribadah. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan kenyamanan bersama. Bahkan, jika kita baru saja mengonsumsi makanan yang beraroma menyengat (seperti bawang, petai, atau jengkol), hukumnya makruh untuk melangkah ke masjid sebelum kita menggosok gigi dan membersihkan mulut terlebih dahulu. Demikianlah Islam mengatur keindahan lahiriah sedemikian rupa.
Berdasarkan Hadis Jibril tersebut juga, para ulama menyimpulkan bahwa bangunan agama Islam yang utuh terdiri dari tiga maqam (tingkatan) yang saling mengikat:
1. Maqam Iman, yang kemudian diformulasikan secara sistematis menjadi Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid.
2. Maqam Islam, yang diformulasikan menjadi Ilmu Fikih.
3. Maqam Ihsan, yang diformulasikan menjadi Ilmu Tasawuf.
Fenomena hari ini menunjukkan banyak umat Islam yang hanya mencukupkan diri pada aspek Tauhid dan Fikih, lalu mengabaikan bahkan memusuhi Ilmu Tasawuf.
Mari kita lihat dampak riil di masyarakat akibat pincangnya pemahaman ini. Kita sering menjumpai orang yang shalatnya sangat rajin, tetapi perilaku berbohongnya juga jalan terus. Ada yang rajin berangkat umrah berkali- kali, tetapi praktik korupsinya tidak pernah berhenti. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena aktivitas ibadah mereka baru sebatas menggugurkan kewajiban lahiriah, belum menyentuh level penghayatan batin (ihsan).
Ihsan menuntut kita untuk menyadari kehadiran Allah. Menghadirkan Allah bukan dengan bayangan mata fisik, melainkan dengan pancaran mata hati (bashirah). Tanpa adanya sentuhan tasawuf yang melatih hati merasakan kehadiran-Nya, batin kita akan tetap gersang. Seseorang yang hatinya mati, ketika melihat lembaran-lembaran uang, ia akan mudah silau. Namun bagi orang yang hatinya hidup bersama Allah, kemilau duniawi itu akan terlihat biasa-biasa saja.
Dua Tangga Maqam Ihsan: Musyahadah dan Muraqabah
Hadirin Rahimakumullah, Dalam khazanah spiritual Islam, maqam (tingkatan) Ihsan bukanlah sebuah konsep tunggal yang abstrak. Jika kita membedah lebih dalam hadis dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah Saw, kita akan menemukan bahwa Ihsan sebetulnya terbagi menjadi dua tingkatan spiritual yang sangat indah:
1. Maqam Musyahadah: Penyaksian Mata Hati
Tingkatan tertinggi dari Ihsan adalah ketika Anda beribadah kepada Allah seakan-akan Anda melihat-Nya (anta'budallah ka-annaka tarohu). Dalam dunia tasawuf, kondisi batin seperti ini disebut dengan Musyahadah.
Musyahadah adalah kemampuan spiritual ketika tabir- tabir kelalaian telah tersingkap, sehingga mata hati kita (bashirah) mampu menyaksikan kebesaran, keagungan, dan keindahan Allah di balik setiap jengkal ciptaan-Nya.
Untuk memahami konsep ini secara jernih, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada (wujud) di alam semesta ini terbagi menjadi dua kategori besar:
1. Wujud yang Bersifat Indrawi (Khalaq)
Yaitu segala sesuatu yang kewujudannya dapat ditangkap atau di-idrak (dijangkau) oleh panca indra manusia. Kita bisa melihat bentuknya dengan mata, mencium aromanya dengan hidung, mendengar suaranya dengan telinga, mengecap rasanya dengan lidah, atau meraba teksturnya dengan tangan.
2. Wujud yang Bersifat Rasional dan Spiritual (Haq)
Yaitu kewujudan yang tidak kasatmata dan tidak bisa dijangkau oleh panca indra, melainkan hanya bisa di-idrak melalui mata akal dan mata hati. Allah SWT adalah Zat yang tidak bisa dilihat oleh mata fisik manusia di dunia.
2. Maqam Muraqabah: Perasaan Diawasi oleh Allah
Apabila batin kita belum sampai pada tingkatan melihat- Nya, maka Islam memberikan tangga kedua yang tidak kalah mulia: menumbuhkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa menatap kita (fain lam takun tarohu fainnahu yaroka). Tingkatan inilah yang disebut dengan Muraqabah.
Muraqabah adalah kondisi di mana qalbu seseorang terkunci dalam satu kesadaran konstan bahwa ia sedang diawasi, dipantau, dan ditatap oleh Allah SWT dalam setiap embusan napas, gerak-gerik, bahkan lintasan pikiran yang paling rahasia sekalipun.
Sebuah Refleksi: Di Mana Muraqabah Kita?
Ketika kita sedang berada di dalam masjid, bersimpuh di atas sajadah, mengenakan pakaian terbaik, dan suasana hening menyelimuti, kita mungkin begitu mudah menghadirkan rasa muraqabah ini. Hati kita bergetar, dan kita merasa begitu dekat dengan-Nya.
Namun, bagaimana ketika kaki kita melangkah keluar dari pintu masjid? Bagaimana saat kita berada di bilik-bilik kantor, di tengah riuh rendah transaksi pasar, atau saat jemari kita berselancar di balik layar gawai yang sunyi dari penglihatan orang lain? Apakah rasa diawasi itu masih menyala dengan intensitas yang sama, ataukah ia meredup dan hilang berganti nafsu duniawi?
Orang yang telah berhasil merawat rasa muraqabah-nya di setiap ruang dan waktu - baik dalam sunyi maupun ramai - adalah orang yang telah berhasil menginjakkan kakinya di maqam Ihsan. Hidupnya akan menjelma menjadi pribadi yang penuh kehati-hatian (wara'), jujur, dan dipenuhi kedamaian, karena ia tahu bahwa ia tidak pernah sedetik pun lepas dari tatapan kasih sayang Sang Khalik.
Hadirin Rahimakumullah, Tasawuf berfungsi mengubah kualitas spiritual kita, dari sekadar Iman (percaya) naik kelas menuju Yakin (haqqul- yakin).
Iman artinya membenarkan dengan hati. Sifat iman ini masih bisa naik dan turun (yazidu wa yankush), tergantung pada amal dan godaan sekitar. Maka jangan heran jika penyelenggara urusan agama sekalipun masih ada yang doyan korupsi uang, itu tanda imannya masih goyah dan rapuh.
Yakin adalah tingkatan keimanan yang sudah mengakar begitu dalam ke pusat sanubari, sehingga tidak akan mungkin bisa digoyahkan oleh badai ujian atau godaan materi apa pun. Orang yang sudah sampai pada level yakin tidak akan pernah silau oleh gemerlap harta dan takhta.
Tiga Tingkatan Keyakinan (Yakin)
Hadirin Rahimakumullah, untuk memudahkan kita memahami tingkatan keyakinan di dalam tasawuf, para ulama membaginya menjadi tiga tingkatan: Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin. Kita bisa mengambil ilustrasi sederhana dari sebuah mug atau cangkir di atas meja:
1 . Ilmul Yaqin (Keyakinan Berdasarkan Informasi/Logika): Ketika Anda melihat sebuah mug tertutup, secara logika dan informasi awal, Anda meyakini bahwa di dalam mug tersebut pasti ada airnya. Ini adalah keyakinan tingkat dasar yang dibangun di atas argumentasi logis.
2. Ainul Yaqin (Keyakinan Berdasarkan Penyaksian Mata): Tingkatan ini naik ketika tutup mug tersebut dibuka, dan Anda melihat dengan mata kepala sendiri bahwa di dalamnya benar-benar berisi air yang jernih. Keyakinan Anda kini bertambah kuat karena faktor penyaksian langsung.
3. Haqqul Yaqin (Keyakinan Berdasarkan Pengalaman Rasa): Tingkatan tertinggi adalah ketika Anda mengambil mug tersebut, meminum airnya, dan merasakan langsung kesegaran air itu mengalir di tenggorokan hingga rasa haus Anda lenyap seketika. Ini adalah keyakinan yang menyatu dengan jiwa melalui pengalaman rasa (zauq).
Mari kita kontekstualisasikan tiga tingkatan ini ke dalam aktivitas ibadah kita, misalnya dalam sebuah majelis zikir. Rasulullah Saw pernah bersabda:
“Apabila kalian melewati taman surga maka singgahlah dengan senang!" Para sahabat bertanya, "Apakah taman surga itu?" Rasulullah menjawab, "Lingkaran (perkumpulan) dzikir." (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ketika kita mendengar sabda ini dan memercayainya karena tahu bahwa Rasulullah Saw tidak pernah berbohong, maka kita baru berada pada level Ilmul Yaqin.
Kemudian, ketika kita memantapkan langkah kaki untuk datang dan duduk di dalam majelis zikir tersebut, lalu tiba- tiba hati kita merasakan pancaran ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman yang luar biasa yang belum pernah dirasakan di tempat lain, kita telah naik ke level Ainul Yaqin.
Lalu, ketika zikir sedang bergemuruh dan qalbu telah bersih, tiba-tiba ruhani kita ditarik dan "diajak jalan-jalan" merasakan langsung atmosfer keindahan surga serta kelezatan berkomunikasi dengan Allah SWT, itulah tingkatan Haqqul Yaqin. Pada titik ini, Allah mengalirkan secuil kenikmatan akhirat ke dalam hati seorang hamba, sehingga segala bentuk kenikmatan duniawi yang ada di sekitarnya seketika berubah menjadi hambar dan tak lagi menarik.
Terkait hal ini, Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam kitab masterpiecenya, Al-Hikam, memberikan nasihat yang sangat indah:
Seandainya cahaya keyakinan menerangimu, niscaya engkau dapat melihat akhirat itu lebih dekat padamu ketimbang engkau berjalan menujunya. Dan engkau pun melihat keindahan dunia telah ditutupi gerhana kefanaan yang suram.
Bagi orang yang hatinya bercahaya, akhirat bukanlah sesuatu yang jauh di awang-awang. Akhirat adalah hari esok yang pasti terjadi, dan hari ini adalah waktu untuk bersih-bersih dan bersiap diri.
Efek kedua dari masuknya cahaya keyakinan ini adalah kita akan melihat bahwa seluruh kesenangan dunia ini bersifat fana (rusak dan menipu). Perlahan namun pasti, syahwat dan kelezatan duniawi di dalam dada kita akan semakin menyusut dan berkurang intensitasnya.
Merawat Jiwa dari Ancaman Kerusakan Zaman
Hadirin Rahimakumullah, bagaimana cara kita meningkatkan level keyakinan ini di tengah gempuran zaman modern? Jawabannya adalah dengan konsisten memonitor proses ritual suluk (perjalanan spiritual) kita.
Secara khusus, perhatikan dua pilar penting gerakan hati:
· Takhliyyah (Pembersihan Jiwa): Proses mengosongkan dan membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dari berbagai macam penyakit kotor seperti iri, dengki, riya, sombong, dan hubbud dunya (gila dunia).
· Tahliyyah (Penghiasan Jiwa): Proses mengisi dan menghiasi hati yang telah bersih tadi dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah), seperti sabar, syukur, ikhlas, dan rida.
Manusia pada umumnya diciptakan dengan tabiat ajula (tergesa-gesa dan menyukai hal-hal yang instan). Bertarekat itu prinsipnya mirip seperti menanam pohon jati. Prosesnya membutuhkan waktu seumur hidup, konsisten, dan menuntut kesabaran tingkat tinggi hingga ajal menjemput kita.
Orientasi Akhirat dan Ketundukan Jiwa
Hadirin Rahimakumullah, apabila cahaya keyakinan telah sempurna menyinari hati, maka karakteristik utama yang akan muncul pada diri seorang hamba adalah:
1. Hatinya Selalu Akhirat-Oriented (Berorientasi Akhirat): Akhirat menjadi satu-satunya cita-cita terbesar dalam hidupnya.
2. Nafsu Duniawinya Mengalami Penurunan Drastis: Semangat ibadahnya tidak lagi terseret-seret atau terseok-seok karena beban syahwat duniawi.
Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari menegaskan,
لَا تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ، وَلَا تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِمَا أَمَرَكَ، وَنَهَاكَ عَمَّا نَهَاكَ، لِمَا يَعُوْدُ عَلَيْكَ
Ketaatanmu tidaklah berguna bagi-Nya, dan kemaksiatan yang engkau lakukan pun juga tidak membahayakan-Nya. Dia menyuruh berbuat ini dan melarang berbuat itu adalah demi kepentingan dirimu sendiri.
"Ketaatan yang engkau lakukan tidak akan membawa manfaat sedikit pun bagi Allah, dan kemaksiatan yang engkau perbuat tidak akan mendatangkan mudarat sedikit pun bagi Allah."
Allah Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan ritual ibadah makhluk-Nya. Kunci utama spiritualitas ini adalah bagaimana caranya agar hati kita bisa "naik kelas". Iman dan keyakinan adalah perkara yang haq (benar), sedangkan penyakit-penyakit hati adalah perkara yang bathil (rusak). Menurut sunnatullah, perkara yang haq dan yang bathil tidak akan pernah bisa bersatu di dalam satu wadah. Selama hati kita masih dikotori oleh penyakit batin, maka cahaya keyakinan tidak akan sudi masuk.
Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan qalbu kita dari segala noda penyakit hati, menghiasinya dengan cahaya keyakinan yang kokoh, serta menuntun kita semua menjadi hamba-hamba yang istiqamah di atas jalan kesempurnaan iman, Islam, dan ihsan. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.