Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, ia adalah Syahrul Qur’an bulan di mana kalam ilahi diturunkan sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil.
Al-Qur'an adalah kitab yang penuh dengan keberkahan (mubarak). Berkah, sebagaimana dijelaskan KH. Muchlis M. Hanafi, bukanlah soal angka atau jumlah, melainkan subutul khairil ilahi fis-sai yaitu menetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu secara terus-menerus dan meluas. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Ṣād [38]:29)
Perintah pertama dalam Islam adalah Iqra (Bacalah). Beliau menekankan bahwa perintah ini tidak terbatas pada membaca teks tulisan, karena pada saat wahyu turun, Rasulullah SAW belum menerima teks tertulis. Iqra mencakup pengamatan, analisis, dan observasi terhadap dua jenis ayat Allah:
- Ayat Qauliyah
Ayat-ayat Allah yang tertulis di dalam Mushaf Al-Qur'an (Al-Kitab al-Mastur). - Ayat Kauniyah
Ayat-ayat Allah yang terbentang luas di alam semesta dan dalam diri manusia (Al-Kitab al-Manzur).
Hal tersebut sejalan dengan ayat Quran surah Fussilat, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fuṣṣilat [41]:53)
“Islam tidak mengenal adanya dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu umum atau ilmu agama. Tidak ada pertentangan antara wahyu yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun ilmu pengetahuan yang lahir dari pengamatan terhadap alam semesta,” tegas KH. Muchlis M. Hanafi.
Dalam pandangan Islam yang kaffah, sosok "ulama" tidak hanya terbatas pada mereka yang ahli di bidang fikih atau hadis. Siapa pun yang melalui penelitian dan ilmunya, baik itu di laboratorium maupun di balik meja telaah. Semakin menyadari keagungan Allah dan merasa takut (khasyiyah) kepada-Nya, maka ia adalah bagian dari ulama.
“Ulama bukan hanya yang pandai mengaji, tetapi mereka yang membentuk kesadaran akan keagungan Allah SWT,” ujarnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Artinya: “(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fāṭir [35]:28)
Maka, ilmu yang sejati itu adalah ilmu yang melahirkan keimanan, ilmu yang bisa mengantarkan seseorang untuk mengenali keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di penghujung tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya mengejar kuantitas khataman Al-Qur'an, tetapi juga meningkatkan kualitas melalui tadabur.
Tadabur berarti merenungkan makna hingga ke bagian terdalam. Namun, seringkali hati manusia terhalang untuk memahami Al-Qur'an karena "gembok" maksiat dan kesombongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَاا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ
Artinya: “Sesungguhnya, jika seorang mukmin melakukan sebuah dosa, muncullah di dalam hatinya sebuah titik hitam. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristighfar, hilanglah titik hitam tersebut dari hatinya. Jika dosanya bertambah, bertambah pula titik tersebut sampai menutupi seluruh hatinya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, dan lainnya)
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Ahlul Qur'an, keluarga Allah di bumi yang senantiasa diterangi oleh cahaya wahyu-Nya. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.