Oleh: Prof. Dr. KH. Darwis Hude, MA.
Bencana alam adalah fenomena yang kerap menimbulkan pertanyaan mendalam di benak manusia: mengapa ini terjadi? Apakah ini kehendak Tuhan? Dalam ceramahnya, KH. Darwis Hude. memberikan penjelasan komprehensif berdasarkan perspektif Al-Qur'an tentang bagaimana Islam memandang berbagai peristiwa yang menimpa manusia di muka bumi, termasuk bencana alam.
Beliau menegaskan bahwa Al-Qur'an menyediakan kerangka konseptual yang kaya dan terstruktur untuk memahami setiap peristiwa baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan yang dialami oleh manusia. Setidaknya ada tiga istilah utama yang perlu dipahami.
Di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggunakan tiga istilah utama untuk menggambarkan peristiwa yang dialami manusia, yaitu bala (ibtila), musibah, dan azab. Memahami perbedaan ketiganya sangat penting agar kita tidak salah dalam menyikapi setiap kejadian.
Istilah pertama adalah bala atau ibtila, yang bermakna ujian. Ujian ini bersifat netral bisa hadir dalam wujud kenikmatan maupun penderitaan. Semua manusia, tanpa terkecuali bahkan para nabi dan rasul pasti mendapatkan ujian dari Allah. Ujian berupa kenikmatan menuntut syukur, sedangkan ujian berupa penderitaan menuntut kesabaran. Sebagaimana Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,” (Qs Al-Baqarah ayat 155)
Berbeda dengan ibtila, musibah adalah sesuatu yang terjadi dalam kehidupan tanpa dikehendaki oleh yang bersangkutan. Namun bagi seorang mukmin, musibah tidak pernah datang tanpa kompensasi dari Allah. Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya: "Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan—bahkan sekadar duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)
Ini adalah bentuk rahmat Allah yang tersembunyi di balik setiap kepedihan. Musibah, bagi seorang mukmin yang bersabar, menjadi penghapus dosa sekaligus peningkat derajat di sisi Allah.
Istilah ketiga adalah azab, yang sifatnya lebih spesifik. Azab diberikan kepada individu maupun kelompok yang sangat melampaui batas dan menentang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman:
وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs As-Sajdah ayat 21)
Azab yang lebih ringan di dunia adalah peringatan agar manusia bertaubat sebelum menghadapi azab yang sesungguhnya di yaumil kiamah.
KH. Darwis Hude kemudian mengulas secara khusus bencana alam dan membaginya ke dalam dua kategori utama, berlandaskan firman Allah:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs Ar-Rūm ayat 41)
Bencana kategori pertama adalah yang memang dikehendaki Allah sebagai bagian dari mekanisme alam, seperti gempa bumi vulkanik dan tektonik. Bencana ini adalah cara Allah menstabilkan kembali alam semesta lempeng-lempeng bumi yang bertumpuk akibat perputaran bumi perlu diseimbangkan kembali.
Beliau menggunakan analogi yang indah: seperti tukang jahit yang menggunting dan menjahit kain. Bagi yang tidak mengerti, tindakan itu tampak merusak, padahal tukang jahit sedang mengepaskan pakaian. Demikian pula Allah bencana lizatihi bukan kezaliman, melainkan penyeimbangan alam. Allah Swt berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan siapa yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya).” (Qs Fuṣṣilat ayat 46)
Korban jiwa dalam bencana alam bukan karena Allah menzalimi hambanya, melainkan karena manusia membangun bangunan yang tidak tahan bencana di atas jalur rawan, atau bahkan mendirikan hunian di zona berbahaya.
Kategori kedua adalah bencana yang terjadi akibat perbuatan manusia sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum: 41 di atas. Contoh nyata yang disampaikan adalah penggunaan plastik dan styrofoam yang sulit diurai alam.
Beliau menjelaskan bahwa banjir sejatinya adalah sistem anugerah Allah hujan yang turun membawa humus subur dan mendaur ulang sampah organik melalui aliran sungai menuju laut. Yang menjadi bencana adalah ketika manusia membangun di bantaran sungai dan membuang sampah sembarangan sehingga menyumbat saluran air. Banjir yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi musibah akibat ulah manusia sendiri.
Salah satu bagian paling mencerahkan dari ceramah ini adalah ketika KH. Darwis Hude menjelaskan mekanisme alam yang Allah merancang dengan sangat cermat. Allah berfirman tentang keteraturan alam semesta:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya: “Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Qs Al-Jāṡiyah ayat 13)
Gelombang laut, misalnya, adalah taskhir (penundukan alam) yang berfungsi mencegah permukaan laut terlalu panas akibat sinar matahari sehingga ikan-ikan dapat naik ke permukaan dan mudah ditangkap nelayan. Mekanisme predasi di laut ikan besar memakan ikan kecil adalah keseimbangan ekosistem yang bijaksana, bukan bentuk keganasan.
Air laut yang bersifat korosif pun bukan tanpa tujuan ia adalah kekuatan penyucian alami untuk mengurai sampah-sampah organik. Semua ini membuktikan firman Allah:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”
(Qs Āli ‘Imrān ayat 191)
Di penghujung ceramahnya, KH. Darwis Hude menyerukan kesadaran kolektif untuk menjaga alam semesta. Tindakan destruktif seperti bom ikan, setrum ikan, atau racun potas menghancurkan mekanisme alami yang telah Allah merancang dengan sempurna. Pencemaran udara dan air adalah akibat nyata dari kelalaian manusia. Allah memperingatkan:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Qs Al-A‘rāf ayat 56)
Beliau juga mengingatkan bahwa kesehatan memiliki enam dimensi yang harus dijaga bersama: sehat jasmani, sehat rohani, sehat sosial, sehat spiritual, sehat finansial, dan sehat lingkungan. Dimensi lingkungan adalah fondasi bagi dimensi-dimensi lainnya lingkungan yang sehat dengan udara segar dan penghijauan yang terjaga akan menopang kesehatan manusia secara menyeluruh.
Ceramah KH. Darwis Hude. ini memberikan pencerahan yang sangat berharga dalam memahami bencana alam dari sudut pandang Islam. Beliau berhasil membangun jembatan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan alam dengan cara yang logis dan mudah dipahami.
Kesimpulan utama dari ceramah ini adalah: pertama, setiap peristiwa yang menimpa manusia baik bala, musibah, maupun azab memiliki makna dan hikmah yang dalam. Kedua, alam semesta adalah sistem yang sempurna yang Allah ciptakan untuk keseimbangan dan kesejahteraan seluruh makhluk. Ketiga, kerusakan alam adalah akibat dari kelalaian manusia, bukan desain Ilahi. Keempat, menjaga lingkungan adalah kewajiban agama sekaligus investasi untuk keselamatan generasi mendatang.
Marilah kita jadikan pemahaman ini sebagai motivasi untuk lebih arif dalam berinteraksi dengan alam bukan sebagai penguasa yang serakah, melainkan sebagai khalifah yang bertanggung jawab dan bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. (FAISAL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.