Jakarta, www.istiqlal.or.id - Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal KH Ahmad Thib Raya dalam Mimbar Ramadhan menegaskan bahwa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU‑MI), lahir sejak 2021 sebagai gagasan besar untuk mengintegrasikan turats (kitab‑kitab klasik ulama salaf) dengan inovasi pengetahuan kontemporer dan pengalaman internasional.
Dalam ceramahnya, KH Ahmad Thib Raya menjelaskan bahwa program ini berdiri di bawah gagasan besar Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang terinspirasi ketika pandemi COVID‑19 menyebabkan wafatnya beberapa ulama Indonesia.
“Jika itu tidak dicarikan ‘pengganti’ melalui program kaderisasi, maka umat akan kehilangan banyak rujukan ulama,” ujar KH Ahmad Thib Raya, dalam ceramah Mimbar Ramadhan, Senin (2/3/2026)
Bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, Kementerian Agama RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta., hingga kini, PKU‑MI telah menampung lebih dari 500 mahasiswa S2 dan S3, yang disebut sebagai calon kader ulama laki‑laki dan perempuan.
Menurut KH Ahmad Thib Raya, titik tolak utama PKU‑MI adalah kemampuan membaca dan memahami kitab‑kitab turats yang dikenal masyarakat sebagai “kitab kuning”. Program ini mengharuskan calon kader untuk menguasai kitab klasik di bidang tafsir, hadis, ushul fiqh, fiqh, hingga ilmu‑ilmu keislaman kontemporer seperti gender.
Calon mahasiswa wajib menempuh tes seleksi yang cukup ketat, antara lain uji kemampuan membaca teks Arab, teks Inggris, wawasan keislaman, wawasan keindonesiaan, dan sikap keagamaan. Jika calon terlihat berpikiran “eksklusif” atau tidak mampu membaca kitab kuning, maka dipastikan tidak akan diterima.
“Kemampuan membaca kitab turats adalah prasyarat mutlak. Mereka tidak bisa lolos dari program ini jika tidak memiliki kemampuan itu,” tegas KH Ahmad Thib Raya.
Dalam visi PKU‑MI, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Thib Raya, lembaga ini berusaha menjadi “lembaga pendidikan ulama yang bertaraf internasional”. Program ini menargetkan lahirnya ulama yang berakhlak mulia, berwawasan luas, moderat, dan inklusif, sehingga mampu menjadi perekat umat di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia dan dunia.
Menurutnya, para kader tidak hanya dibutuhkan di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat global. Oleh karena itu, mereka wajib menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, dan pengajaran di PKU‑MI sebagian besar menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar bagi mata kuliah berbasis kitab kuning, serta bahasa Inggris untuk mata kuliah yang relevan.
Sebagai bagian dari inovasi, setiap kader ulama diwajibkan mengikuti short course di luar negeri, terutama di negara‑negara Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Program ini dibiayai sepenuhnya oleh LPDP, sehingga para mahasiswa tidak hanya mendapat ilmu di dalam negeri, tetapi juga berinteraksi langsung dengan perpustakaan‑perpustakaan, sarjana, dan masyaikh setempat.
“Kami ingin mereka membaca kitab dan buku yang belum pernah mereka baca di Indonesia, menyerap pengetahuan dari para ulama dan ilmuwan di sana, serta mengamati kehidupan masyarakat yang multikultural dan multireligius,” ujar KH Ahmad Thib Raya.
Menurut laporan yang diterima, kader‑kader ulama yang dikirim ke Amerika Serikat mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Bahkan, ada yang diberikan mobil untuk digunakan selama masa pendidikan demi memudahkan mereka berdakwah dan berinteraksi dengan berbagai komunitas.
KH Ahmad Thib Raya menyoroti bahwa PKU‑MI juga menjadi program pertama di dunia yang mengedukasi kader ulama perempuan secara formal. “Nanti tidak hanya lahir al‑ulama, tapi juga al‑ulamat,” katanya.
Keberadaan kader ulama perempuan diharapkan melengkapi struktur keulamaan di Indonesia, termasuk membuka peluang munculnya organisasi seperti Majelis Ulama Indonesia yang lebih inklusif, dengan representasi perempuan yang kuat.
Dalam ceramahnya, KH Ahmad Thib Raya juga menekankan bahwa PKU‑MI tidak hanya unggul dalam kurikulum, tetapi juga dalam pendanaan. Seluruh biaya pendidikan, transportasi dari daerah asal ke Jakarta, biaya akomodasi, dan bahkan biaya short course selama tiga bulan untuk program magister (dan lebih lama untuk program doktor) ditanggung penuh LPDP.
“Mahasiswa PKU hanya perlu bawa koper dari rumah. Di sini sudah disiapkan biaya, asrama, dan semua fasilitas pendidikan. Mereka wajib menginap di asrama dan menjalani proses pendidikan bersama,” ujar KH Ahmad Thib Raya.
Selain kuliah formal di PTIQ dan program khusus di Masjid Istiqlal, para kader juga diwajibkan melakukan praktik keulamaan. Secara berkala, mereka diminta memberikan kajian, menjadi imam, atau menjadi pembimbing di hadapan jemaah Masjid Istiqlal.
Selain itu, pada masa libur, terutama saat Ramadhan, mereka kembali ke kampung halaman untuk mengisi pengajian, menjadi imam, atau memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat. Laporan praktik ini kemudian dikumpulkan kepada pihak pengelola PKU‑MI sebagai bahan evaluasi.
KH Ahmad Thib Raya menjelaskan bahwa nanti lulusan program magister akan disebut “M.KUMI”, singkatan dari Magister Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta. Sementara lulusan doktoral akan disebut “Dr. KUMI” atau “Dr. Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta”.
“Kalau Bapak‑Ibu melihat seseorang pakai gelar KUMI, itu artinya dia adalah kader ulama lulusan Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal. Gampang dikenalnya,” imbuhnya.
Dalam bagian penutup, KH Ahmad Thib Raya mengungkap bahwa PKU‑MI sedang merancang program agar kepala daerah, khususnya para gubernur di seluruh Indonesia, dapat mengirimkan calon kader pilihan mereka untuk mengikuti pendidikan kader ulama di Masjid Istiqlal. Harapannya, program ini tidak hanya menjadi program nasional, tetapi juga menjadi pusat rekrutmen ulama moderat yang siap melayani masyarakat di tingkat lokal maupun internasional.
“Semoga para mahasiswa kader ulama ini menjadi ulama yang hebat, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat internasional,” pungkas KH Ahmad Thib Raya. (FAISAL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.