Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Masjid Sebagai Trend Setter Halal Lifestyle

Administrator 25 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: KH. Bukhori Sail Attahiri 

Dalam rangkaian Mimbar Ramadhan di Masjid Istiqlal, KH. Bukhori Sail Attahiri menyampaikan ceramah yang mengajak untuk melihat Masjid Istiqlal tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban, penjaga harmoni sosial, serta teladan dalam kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam tausiyahnya, KH. Bukhori Sail Attahiri menegaskan bahwa konsep ramah lingkungan di Masjid Istiqlal tidak lahir belakangan, melainkan telah dipikirkan secara matang oleh para pendirinya sejak awal pembangunan. Lingkungan yang dimaksud mencakup dua dimensi utama, yakni lingkungan fisik dan lingkungan spiritual.

Secara fisik, Masjid Istiqlal dirancang dengan konsep keterbukaan. Bangunan masjid dibuat tanpa daun pintu, dengan dinding-dinding berkerawang yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan secara alami. Udara dapat keluar-masuk dengan bebas, sehingga masjid tetap terasa sejuk dan nyaman tanpa bergantung pada pendingin udara. Pada masa awal, Masjid Istiqlal bahkan dibangun tanpa penggunaan AC, karena desain arsitekturnya telah menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia.

Dalam perkembangannya, Masjid Istiqlal juga terus berinovasi melalui pemanfaatan energi terbarukan. Saat ini, sekitar 23 persen kebutuhan listrik masjid telah dipenuhi melalui sistem tenaga surya. Selain itu, air wudhu yang digunakan oleh jamaah tidak langsung terbuang, melainkan didaur ulang untuk menyiram tanaman dan keperluan non-konsumsi lainnya. Upaya ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya alam.

Atas berbagai ikhtiar tersebut, Masjid Istiqlal memperoleh penghargaan internasional dari Bank Dunia sebagai green mosque, menjadikannya satu-satunya masjid di dunia yang meraih pengakuan global dalam kategori tersebut.

Selain lingkungan fisik, aspek lingkungan spiritual juga menjadi perhatian utama. Secara geografis, Masjid Istiqlal berdiri berhadapan dengan Gereja Katedral Jakarta dan berada di sekitar beberapa rumah ibadah agama lain. Penempatan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil pemikiran visioner para pendiri bangsa.

Ir. Soekarno, saat merancang pembangunan Masjid Istiqlal, telah membayangkan masa depan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk namun hidup dalam kerukunan. Kedekatan antar rumah ibadah diharapkan menjadi simbol sekaligus pengingat bahwa perbedaan agama tidak menghalangi terciptanya kehidupan yang harmonis, toleran, dan saling menghormati.

Seluruh konsep tersebut sejatinya berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an. Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, dengan amanah untuk mengelola dan menjaga alam, bukan merusaknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ 

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A‘raf [7]: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keseimbangan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan. Lebih dari itu, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah SWT, baik di langit maupun di bumi, senantiasa bertasbih kepada-Nya:

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ 

Artinya: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hasyr [59]: 1)

Kesadaran ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merusak alam, karena alam pun merupakan makhluk Allah yang sedang menjalankan ibadahnya. Tugas manusia bukanlah mengeksploitasi, melainkan mengelola dengan penuh tanggung jawab demi kemaslahatan bersama.

Dengan konsep tersebut, Masjid Istiqlal tampil sebagai TrendSetter atau pelopor dalam pembangunan masjid yang berwawasan lingkungan dan moderasi beragama. Masjid tidak dibangun semata untuk kepentingan jamaahnya, tetapi juga untuk menciptakan kenyamanan sosial yang lebih luas, termasuk bagi pemeluk agama lain.

Pembangunan masjid, sebagaimana dicontohkan oleh Masjid Istiqlal, harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan, harmoni sosial, dan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Inilah wajah Islam yang “rahmatan lil ‘alamin” membawa rahmat bagi seluruh alam.

Melalui Mimbar Ramadhan ini, jamaah diajak untuk mengenal Masjid Istiqlal lebih dekat, tidak hanya sebagai bangunan monumental, tetapi sebagai simbol keseimbangan antara iman, lingkungan, dan kemanusiaan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan fisik dan spiritual menjadi kunci agar kehidupan dapat berlangsung secara nyaman, harmonis, dan berkelanjutan.

(VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.