Dr. Mulawarman Hannase, Lc., MA.Hum
Ramadhan selalu datang dengan wajah, keistimewaan dan kesan yang berbeda. Ia bukan sekadar bulan dalam hitungan kalender hijriah, melainkan sebuah bulan spiritual dimana umat Islam diajak kembali menata niat, merenungi makna hidup, serta memperbarui hubungan dengan sang pencipta dan sesama makhluk. Di tengah denyut metropolitan yang tak pernah benar-benar tidur, di jantung ibu kota Jakarta, berdiri sebuah bangunan megah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan spiritual bangsa yaitu Masjid Istiqlal.
Masjid terbesar di Asia Tenggara ini bukan hanya simbol kemerdekaan sebagaimana namanya yang berarti “kemerdekaan”, melainkan juga ruang perjumpaan harapan umat. Sejak diresmikan pada 1978, Masjid Istiqlal telah menjadi rumah untuk semua, di dalamnya tercurah jutaan doa, air mata taubat, gema takbir, dan langkah-langkah kecil anak-anak yang belajar tentang makna Islam dari keramaian jamaah dan ceramah ulama. Ia berdiri berhadapan dengan Gereja Katedral Jakarta, seakan menegaskan pesan sunyi bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan rahmat yang harus dirawat. Ia juga menegaskan, Indonesia adalah pusat toleransi masyarakat internasional.
Titik Temu Spritual dan Ekologi
Pada bulan Ramadhan tahu 2026/1447 H., Istiqlal menghadirkan narasi yang berbeda. Di tengah krisis iklim global, meningkatnya kesadaran lingkungan, dan kegelisahan generasi muda terhadap masa depan bumi, lahirlah sebuah gerakan yang sederhana namun sarat makna. “Ramadhan Hijau.” Bukan sekadar slogan, melainkan tekad kolektif untuk menjadikan ibadah sebagai jalan merawat semesta. Di pelataran Masjid Istiqlal, yang biasanya dipenuhi para jamaah dan barisan jamaah yang berbondong-bondong untuk berbuka, kini tumbuh pula gagasan tentang pengurangan sampah plastik, penggunaan energi ramah lingkungan -seperti panel surya yang ada di atap Istiqlal- pengelolaan air wudhu yang lebih bijak, hingga distribusi makanan berbuka yang memperhatikan keberlanjutan.

Foto: Media Masjid Istiqlal
Ramadhan Hijau di tahun itu menjadi titik temu antara spiritualitas dan ekologi. Dalam memeriahkan Ramadhan, para ulama dan cendikia, aktivis lingkungan, relawan muda, hingga keluarga-keluarga sederhana duduk dalam satu saf, bukan hanya untuk shalat tarawih, tetapi juga untuk berbincang tentang amanah sebagai khalifah di bumi. Tema-tema kajian di Istiqlal pun banyak tentang Islam dan ekologi. Ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, tentang keseimbangan (mizan), dan tentang larangan berbuat kerusakan (fasad), terdengar lebih relevan dari sebelumnya. Seakan-akan Ramadhan di Istiqlal mengajak manusia untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan keserakahan terhadap alam.
Yang menarik, pesan Ramadhan Hijau tidak berhenti pada praktik teknis. Dalam khutbah dan kajian, para penceramah mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang amanah menjaga bumi dengan kondisi lingkungan saat ini. Isu perubahan iklim, krisis air bersih, dan polusi dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami jamaah. Pendekatan ini terasa relevan, terutama bagi generasi muda. Dari sini nantinya diharapkan banyak relawan dari kalangan mahasiswa dan komunitas lingkungan dapat terlibat aktif. Dari Istiqlan harapannya mereka membantu mengedukasi, membuat konten kampanye digital, hingga mengajak jamaah berdonasi untuk penanaman pohon. Masjid menjadi ruang dialog antara spiritualitas dan aksi nyata.
Isu ini tentunya adalah refleksi perjalanan batin tentang bagaimana sebuah masjid nasional mencoba memimpin perubahan dengan cara yang lembut namun berdampak. Di dalamnya, kita akan menemukan cerita para jamaah disiplin membuang sampah sendiri, para ibu yang membawa wadah sendiri untuk takjil, anak-anak muda yang mengampanyekan sedekah pohon, hingga diskusi-diskusi selepas Subuh yang membahas jejak karbon dan teologi lingkungan.
Tanggung Jawab Horizontal Terhadap Bumi
Lebih dari itu, Istiqlal mengajak untuk merenungkan kembali makna ibadah. Apakah puasa hanya tentang hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan? Ataukah ia juga mencakup tanggung jawab horizontal terhadap bumi yang menjadi tempat sujud kita? Dalam konteks inilah, Ramadhan Hijau menjadi refleksi bahwa kesalehan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kesalehan ekologis. Bahwa tasbih dan langkah kecil memungut sampah di halaman masjid, pada hakikatnya, berada dalam satu tarikan napas pengabdian.
Tahun 2026 mungkin akan dikenang sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah Masjid Istiqlal. Bukan karena kemegahan acara atau jumlah jamaah yang membludak, melainkan karena keberanian untuk memulai perubahan budaya. Dari pusat ibu kota, pesan itu bergema ke berbagai daerah di Indonesia. Membangun kesadaran bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat edukasi, pemberdayaan, dan transformasi sosial.
Di tengah riuh kendaraan dan gemerlap lampu kota Jakarta, Ramadhan Hijau menjadi oase yang menenangkan sekaligus membangkitkan kesadaran. Ia mengajarkan bahwa menjaga bumi bukanlah tren sesaat, melainkan wujud syukur yang paling nyata. Bahwa setiap butir nasi yang tidak terbuang, setiap botol plastik yang diganti dengan tumbler, setiap kilowatt listrik yang dihemat, adalah bagian dari doa panjang untuk masa depan.
Apa yang terjadi di Masjid Istiqlal pada Ramadhan 2026 adalah contoh bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari kebiasaan kecil, misalnya membawa botol minum sendiri, tidak menyisakan makanan, mematikan lampu yang tidak perlu, atau menghemat air wudhu.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang satu bulan dalam setahun. Ia adalah latihan mencintai dengan lebih bertanggung jawab. Mencintai Tuhan, mencintai sesama, dan mencintai bumi tempat kita berpijak. Selamat memasuki perjalanan “Ramadhan Hijau di Masjid Istiqlal 2026.” Semoga setiap kata menjadi cahaya kecil yang menuntun pada perubahan besar.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.