Media sosial sudah menjadi bagian dari diri kita, maka perlu menjaga etika dalam bermedia sosial. Ucapan atau ketikan di media sosial merupakan refleksi kepribadian dan kondisi jiwa.
“Dengan hanya jempol, sebuah pesan kebaikan sampai kepada ribuan bahkan jutaan orang, begitu juga dengan hal negatif,” tegas KH. Mahkamah Mahdi
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ…
Artinya: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam…” (HR. al Bukhari dan Muslim)
Etika berbicara mencerminkan iman kita, Rasulullah SAW memberikan pilihan yaitu, Bicara yang baik atau diam. Di dunia maya, "diam" berarti menahan diri untuk tidak memencet tombol share atau menulis komentar yang menyakitkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Aḥzāb [33]:70)
KH. Mahkamah Mahdi menjelaskan Al-Qur'an telah menyusun "arsitektur peradaban" dalam berbicara melalui enam konsep Qaulan (perkataan) yang sangat relevan diterapkan di media sosial, yaitu:
- Qaulan Sadida (Perkataan yang Benar). Pesan yang disampaikan harus jujur, sesuai fakta, tidak manipulatif, tidak menyimpang, berdampak baik, dan tepat sasaran.
2. Qaulan Ma’rufa (Perkataan yang Pantas). Berkomunikasi harus sesuai dengan etika dan norma sosial dan budaya yang bermartabat. Bukan hanya benar secara logika, tapi juga layak secara etika.
3. Qaulan Layyinan (Perkataan yang Lembut). Al-Qur'an mengisahkan Nabi Musa yang diminta tetap berbicara lembut bahkan kepada Firaun. Kelembutan adalah strategi moral dan psikologis untuk menurunkan resistensi lawan bicara, bukan tanda kelemahan.
4. Qaulan Karima (Perkataan yang Mulia). Menjunjung tinggi penghormatan, terutama saat berinteraksi dengan orang tua atau mereka yang lebih berilmu.
5. Qaulan Maisura (Perkataan yang Mudah). Menggunakan bahasa yang mudah dicerna, menyenangkan, dan tidak membuat orang lain merasa terhina. Jika ada menolak sesuatu, harus dengan elegan dan tidak menyakiti.
6. Qaulan ‘Adila (Perkataan yang Adil). Berbicara secara proporsional. Tidak melebih-lebihkan fakta demi engagement dan tidak mengurangi hak orang lain dalam sebuah informasi.
Saat ini kita hidup di zaman "inflasi kata", volume bicara meningkat pesat, namun kualitasnya menurun. Islam mengajarkan sebaliknya, bahwa kurangi volumenya, tingkatkan kualitasnya.
“Setiap orang bisa berbicara dengan ribuan orang dalam hitungan detik, dan yang terjadi menurunnya kualitas Qaul,” tambahnya.
Dalam konteks puasa Ramadhan ini, kita harus menjaga perkataan terutama di media sosial, jangan sampai tidak ada nilai puasanya.
Saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, ujian sesungguhnya bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan menahan lisan dan jempol dari perbuatan buruk. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.