Foto: Dok. Media Istiqlal

Takhliyah dan Tahliyah: Seni Alquran dalam Membentuk Karakter Orang Beriman

Administrator 06 May 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. Mahkamah Mahdin, Lc.

Kajian Zhuhur Pilihan: Isyaratul Ijaz fi Mazhanil Ijaz Karya Badiuzzaman Saidun Nursi radhiallahu anhu | Tema: Alladzina Yu’minuna Bil Ghaib

Abu Hurairah beliau meriwayatkan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur'an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)

Kajian lanjutan dari kajian Isyaratul Ijaz fi Mazhanil Ijaz,  isyarat-isyarat kemukjizatan dalam struktur bahasa Al-Qur'an yang pendek tetapi syarat dengan makna. Pembahasan kajian tentang hubungan antara hudan lil muttaqin dan alladina yminuna bil ghaib. 
Ayat-ayat sebelumnya,

الٓمٓ • ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ • ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ • وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ هُمْ يُوقِنُونَ

Mengapa berurutan antara hudan lil muttaqin dengan kemudian dengan alladzina yu’minun bil ghaib dan seterusnya ? Hal ini menjadi semacam relasi sebab-akibat. Rahasianya adalah, bahwa ayat-ayat sebelumnya, ALif lam mim samapai hudan li muttaqin, adalah pujian terhadap keagungan Al-Qur`an, dan ayat-ayat ini adalah pujian terhadap orang-orang yang beriman. 

Ini adalah korelasinya. Mengalirnya transisi pujian terhadap Al-Qur'an menjadi pujian terhadap orang-orang yang berima, terdapat keselarasan antara keduanya. Mengapa ? Karena konsekuensi dari ketakwaan adalah beriman kepada yang gaib. Mereka akan menunaikan salat, mereka akan berinfak, sedekah, zakat. Merupakan argument, bentuk kausalitas, sebagai bentuk penampakan dari ketakwaan yang disebut di ayat sebelumnya dan merupakan buah dari hidayah Al-Qur'an. 

Hudan lil muttaqin. Apa hidayah yang diberikan Al-Qur'an terhadap orang-orang yang bertakwa? Mereka bisa beriman kepada yang ghaib, dengan iman yang sangat tangguh dan menjadi saksi untuk itu. 

وَشَاهِدٌ عَلَيْهِمْ وَبِسَبَبِ مَا فِيهِ مِنَ التَّشْوِيقِ، إِشَارَةٌ إِلَى جِهَةِ حِسِّ هٰذِهِ الْآيَةِ مِنَ الْهِدَايَةِ

Ini juga motivasi yang merupakan isyarat bahwa ayat ini merupakan salah satu bentuk hidayah yang disebut di ayat sebelumnya,  hudan lil muttaqin. Apa bentuk hidayah Al-Qur'an? Membuat orang-orang beriman kepada yang ghaib, kemudian  melakukan shalat, berzakat, berinfak dan bersedekah. Jadi tiga potongan ayat ini menjadi bentuk riil dari hidayah Al-Qur'an.

Mengapa mereka beriringan?  Karena di sini ada unsur takhlyiah, pengosongan diri dari hal-hal yang tidak baik dan dilanjutkan  unsur tahliah, menghiasi diri dengan hal-hal yang indah dan baik. Takhliyah dan tahliyah adalah  satu paket yang selalu berbarengan.

Ketika ada upaya  untuk melakukan tazyin, memberikan hiasan atau memperindah harus diawali dengan tanzih atau  pembersihan. Ketakwaan adalah menanggalkan semua bentuk-bentuk keburukan, apapun bentuknya masuk dalam kategori takwa.

اَلتَّقْوٰى مَرَاتِبُ: تَرْكُ الشِّرْكِ، وَتَرْكُ الْمَعَاصِي، وَتَرْكُ مَا سِوَى اللّٰهِ

Dalam Al-Qur'an takwa ya itu disebut dalam konteks: pertama: meninggalkan syirik, kedua:meninggalkan kemaksiatan dan ketiga meninggalkan segala sesuatu selain Allah. Yang terakhir adalah ya takwanya orang-orang shalihin, meninggalkan segala sesuatu yang yang tidak ada hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wa at-tahliyatu: fi'lul hasanat, tahliyah adalah menghiasi diri dengan hal-hal yang indah, melakukan al-hasanat, kebaikan-kebaikan, dengan hati, dengan anggota tubuh ataupun dengan harta.

Inilah korelasinya, setelah disebut al-muttaqin disebutlah at-tahliyah, melakukan kebaikan-kebaikan dengan tiga bentuk. Yang pertama adalah bi al-qalb. Amalan amalan kalbu adalah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Iman kepada Allah terkait dengan Allah Yang Maha tidak terbatas. 

Tangga iman ini tidak ada batasnya. Ketika kita melihat segala sesuatu, terdapat tangga keimanan padanya. Mengembalikan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, misalnya ketika berhadapan dengan air, mengembalikan air kepada Allah. Mengapa air bisa diciptakan? Air sebenarnya adalah gas, gas H2O. Kenapa bisa menjadi air? Itu adalah qudrah Allah.  Itu salah satu berarti tangga iman. Ini adalah salah satu tangganya dan tangga ini tidak ada batasnya sebagaimana:

قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا 

"Katakanlah (Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (ilmu) Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)'." (QS/ Al-Kahfi’/18: 109)

Seandainya semua nama-nama Allah dengan manifestasinya ditulis tidak akan habis walau seluruh samudra sebagai tintanya. Dalam ayat lain:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."  QS. Luqman/31 : 27.

Itulah tangga-tangga iman yang harus kita lewati sebagai orang Islam. 

Sementara indeks dari amalan-amalan fisik  dirangkum semuanya dalam salat. Disebut yang pertama alladzina yukminuna bil ghaib. Ghaib yang paling adalah Allah Subhanahu wa ta’ala ya. Kemudian disebut  shalat karena menjadi indeks dari amalan-amalan fisik. 

Kutub amalan-amalan terkait dengan finansial, keuangan adalah zakat. Inilah ciri-ciri orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur'an. Id hiya qantaratul Islam. Zakat adalah jembatan peradaban Islam. Bila ingin Islam maju, kita harus mulai dengan zakat dulu, merapikan zakat.

Beralih kepada menganalisa alladzina yu`minuna bi al-ghaib. Kalau kita lihat kondisi sebenarnya ini adalah ya ijaz, sebuah ungkapan yang sangat ringkas. Dibandingkan sinonimnya, mana yang lebih panjang kata alladzina yu`minuna bi al-ghaib dengan al-mu`minun idiom  alladzina yu`minuna bi al-ghaib lebihn panjang. Kita bisa menyangka bahwa kata al-mu`minun bentuk ijaz yang lebih lebih pendek. 

Mengapa diganti al-mu`minun? Sementara Al-Qur'an selalu menggunakan kata-kata yang paling ringkas. Mengapa tidak menggunakan al-mu`minun bil ghaib?  Karena alif lam dalam kata al-mu`minun setara dengan alladzina, dalam makna  “mereka yang”, dan memiliki makna tersendiri yaitu mengisyaratkan kepada ya orang-orang yang secara spesifik memiliki sifat tersebut. 

Seakan-akan kalimat yang ada sesudah alladzina tidak memiliki sifat lain kecuali sifat yang disebutkan itu yaitu yu`minua  Ini adalah sebagai motivasi untuk beriman. Orang-orang bertakwa itu seakan-akan tidak memiliki sifat lain kecuali beriman. E ini sebagai tasywiq ya motivasi untuk beriman.

Mengisyaratkan bahwa iman menjadi identitas seseorang. Semua sifat-sifat baik yang lain bila dibandingkan dengan sifat imannya tidak ada nilainya. Sifat imanlah yang menjadi identitas. Kemudian selanjutnya:  

وَأَبْدَلَ الْمُؤْمِنُونَ  بِـ  يُؤْمِنُونَ 

mengganti kata "Al-Mu'minun" dengan "Yu'minuna".

Mengapa Al-Qur'an memilih kata kerja (Fi'il Mudhari') daripada kata benda (Isim Fa'il)?  Kata yu'minuna mengisyaratkan bahwa iman bukan sesuatu yang statis atau sekali jadi. Iman itu dinamis, harus terus diperbaharui, dipupuk, dan dikuatkan setiap saat melawan keraguan dan bisikan nafsu. 

Penggunaan kata kerja ini menunjukkan bahwa orang yang bertaqwa adalah mereka yang terus-menerus menjaga imannya. Iman mereka tidak berhenti di satu titik, tapi berkelanjutan dalam segala kondisi. 

Al-Qur'an ingin menggambarkan proses mental dan spiritual yang aktif. Beriman adalah aktivitas berpikir dan merenung yang tidak pernah berhenti. Penggunaan Yu'minuna memberikan kesan kehadiran . 

Seolah-olah kita melihat proses iman itu sedang mekar di dalam hati orang-orang mukmin tersebut. Keimanan terkait dengan dalil-dalil, argumen-argumen tentang keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Apakah itu dalam diri kita? Apakah itu di alam semesta? Tangga-tangga keimanan kepada Allah tidak ada batasnya. Apakah itu tangga-tangga itu kita temukan dalam diri kita? 

Ya, semua titik dalam tubuh kita dari ujung kaki ke ujung rambut adalah dalil, argumen, kebesaran keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala. Setiap dikaji lebih lanjut maka bertambah akan menambah keimanan. 

Yang terakhir pembahasan tentnag bi al-ghaib. Apa bi al-ghaib? Yang pertama adalah bi al-qalb, dengan hati yaitu  bi al-ikhlash bi la nifaq, penuh ketulusan, keikhlasan tanpa kemunafikan. 

Yang kedua, wa ma’al-ghaibiyyah, beriman meskipun  sifatnya ghaib, tidak terlihat oleh mata. Yang ketiga, yu'minuna bi al-ghaib, beriman kepada yang sifatnya gaib, yang tidak terlihat oleh mata, wa bi ‘alami al-ghaib, dengan alam gaib. Inilah tanda-tanda orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, yang mendapatkan petunjuk dari Al-Qur'an.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.