Foto: Dok. Media Istiqlal

Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Admin 29 Jul 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. KH. Muchlis M Hanafi, Lc, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Qur'an surat Al-Haqqah ayat 38 sampai 39, bersumpah dengan menyebut kedua objek tersebut:

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٨ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٩

Artinya: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (fisik), dan dengan apa yang tidak kamu lihat (metafisik)” (QS. al-Haqqah [69]: 38 - 39).

Dari ayat di atas diketahui objek ilmu meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.

وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨

Artinya : “Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya” (QS. Al-Nahl [16]: 8).

Pengakuan terhadap wujud metafisik dalam epistemologi islam melahirkan dua jenis ilmu pengetahuan, pertama : ilmu kasbiy (diperoleh melalui usaha), yaitu ilmu yang diperoleh melalui penginderaan; dan kedua : ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia.

Pada unit wahyu pertama Allah menjelaskan, bahwa di samping ilmu yang diperoleh melalui pengajaran yang dilakukan dengan pena ('allama bil qalam), juga ada yang tanpa qalam, yaitu yang berasal dari sesuatu yang tidak diketahui manusia ('allamal insâna mâ lam ya'lam).

Kebenaran ilmu ladunniy melebihi kebenaran hasil pengindraan dan penalaran. Ini diuraikan oleh Al-Quran melalui kisah Nabi Musa bersama seseorang yang dianugerahi Allah subhânahu wata'ala ilmu ladunniy. Nabi Musa as. yang demikian cerdas dan kritis, yang tentu saja menimbang segala sesuatu dengan sangat cermat, telah dinilai keliru.

Siapa yang menggunakan nalarnya pasti akan berkata bahwa membocorkan perahu milik orang miskin dan sarana pencariannya adalah sesuatu yang buruk; membunuh anak kecil adalah tindakan kriminal; membangun bangunan yang hampir roboh dengan mminta upah adalah sanagt wajar dan rasional.

Tetapi, seperti kata Quraish Shihab, satu persatu dipersalahkan oleh dia yang mendapat ilmu ladunniy itu guna membuktikan bahwa di balik fenomena yang dilihat dan menjadi bahan pertimbangan Nabi Musa as masih ada sekian banyak hal yang tersembunyi, yang tidak diketahuinya dan yang menuntutnya untuk percaya dan mengikuti (baca QS. Al-Kahf [18]: 60-82). 

Alasan yang sering dikemukakan ilmuwan untuk membatasi objek ilmu pada yang bersifat fisik adalah karena objek ini sajalah yang bisa diteliti secara obyektif dan karena itu bisa diverifikasi kebenarannya. Lain halnya dengan objek nonfisik yang tidak bisa diteliti secara objektif melalui eksperimen. Lebih jauh kita dapat berkata, pandangan itu sebenarnya lahir dari keraguan di kalangan ilmuwan Barat yang telah dimulai sejak masa pasca renaisans Eropa, pada abad ke 14-15 M, terhadap keberadaan objek-objek nonfisik.

Positivisme yang mendasari sains modern, telah mengubah masyarakat Barat menjadi sekuler dan lepas dari nuansa spiritual dengan menafikan objek-objek nonfisik. Seperti kata Nasr, "di tangan Descartes realitas-realitas eksternal yang begitu kaya ini telah direduksi ke dalam kuantitas dan filsafat alam ke dalam matematika.

Betapa keringnya sains Barat dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan, untuk apa melakukan riset, observasi dan eksperimen? Jawaban yang selalu mengemuka, "untuk mengetahui hukum alam yang mengatur fenomena tersebut". Dalam epistemologi Islam, jawaban tidak berhenti di situ, tetapi berlanjut dengan pernyataan bahwa "hukum alam yang berjalan secara konsisten itu berakhir pada adanya penyebab pertamanya, yaitu sang Pencipta". Tidak mungkin itu terjadi dengan sendirinya, apalagi alam fisik ini diakui lahir dari sebuah ledakan dahsyat. Tentu ada penyebab pertama (musabbib alasbâb) yang berada pada puncak hirarki yang wujud.

Sampai di sini kita dapat berkata, semua objek sains modern adalah juga objek yang sah dari epistemologi Islam, sebagai bagian integral dari objek-objek lainnya yang membentang antara dunia fisik dan Tuhan sebagai puncak segala wujud. Kesemuanya, tanpa membedakan antara satu dan lainnya, mempunyai validitas kebenaran yang sama. Bahkan keduanya dapat bekerjasama untuk mencapai puncak hakikat segala yang wujud, Pencipta alam ini.

Integralitas objek-objek ilmu dapat dipahami mengingat dalam pandangan Islam semua aktifitas manusia, termasuk pencarian ilmu pengetahuan, harus berakhir pada satu tujuan, yaitu:

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ ٤٢

Artinya : “Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)” (QS. Al-Najm [53]: 42).

Oleh karena itu, di dalam Islam tidak dikenal semboyan "ilmu untuk ilmu", atau ilmu yang bebas nilai, tetapi ilmu harus dapat menyingkap rahasia kebenaran Pencipta melalui observasi terhadap alam nyata, yang kemudian mengantarkan kepada keimanan yang berkualitas dan ketundukan totalitas. Perhatikan firman Allah subhanahu wata'ala berikut:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ٥٣

Artinya : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41]: 53).

وَّلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٥٤

Artinya: “Agar orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengetahui bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Tuhanmu sehingga mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj [22]: 54).
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.