Foto: Dok. Media Istiqlal

Bedah Buku Menjalani Hidup Salikin Karya KH Nasaruddin Umar

Admin 29 Apr 2022 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) melalui bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat BPMI) menyelenggarakan bedah buku "Menjalani Hidup Salikin" karya Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (26/4) waktu sore.

Buku "Menjalani Hidup Salikin" merupakan karya KH Nasaruddin Umar yang dipublikasikan pada 2021 dengan latar belakang pengamatan isu perlunya memberikan batasan terhadap kehidupan yang dijalani. Berisi lima bab di antaranya terkait menata diri, menjaga hati, meningkatkan iman, berdamai dengan keadaan, dan membawa kemaslahatan.

"Saya terdorong menulis buku ini ketika melihat keprihatinan masyarakat kita sekarang ini yang sangat pragmatis, matrealistik, hidup kita sepertinya sangat liar tidak ada rem dalam menjalani kehidupan, dan pasti akan nabrak di sana sini," ungkap KH Nasaruddin Umar dalam kegiatan bedah buku.

"Saya ingin memberikan ilustrasi kepada para pembaca, siapapun diri kita, kita  bisa menempuh perjalanan tersebut. Pengertian dari salikin (atau suluk) adalah diartikan berjalan. Dalam bahasa Arab, salikin, seseorang yang menempuh perjalanan, intinya suluk diartikan sebagai perjalanan spritual untuk menghaluskan budi pekerti kita, melembutkan jiwa, meluruskan jalan pikiran, memutihkan qalbu, menegakkan langkah-langkah kita dalam menjalani kehidupan ini," terang KH Nasaruddin Umar.

Oleh karenanya, dalam menempuh proses meringankan beban batin, KH Nasaruddin Umar menyarankan untuk memaksimalkan muhasabah. "Orang yang sering melakukan muhasabah maka akan mencapai khusnul khatimah," jelasnya.

Prof. Dr. Sri Mulyati, MA, juga menambahkan penilaiannya terhadap buku "Menjalani Hidup Salikin" yang sangat konperhensif dan menyentuh para pembaca, khususnya bagi mereka yang mau meningkatkan keimanan, keislaman, dan keihsanan.

Dalam meningkatkan kualitas ketiga rukun agama di atas, Prof. Sri bersepakat sesuai dengan yang tertera di dalam buku bahwasanya peran niat sangat sakral ketika kita menjalani kehidupan. "Niat yang dihayati dan diresapi sedalam-dalamnya, di situlah yang dimaksud dengan kita 'berbagi' dengan Tuhan. Artinya bukan semata-mata kita sendiri, karena di dalam melaksanakan apa yang diniatkan itu tentu ada pertolongan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT."

"Orang yang niatnya ikhlas tanpa pamrih maka orang tersebut tidak akan kecewa, karena dia tahu setelah dia sampaikan di dalam hati, atau dilafazkan melalui lisan, kemudian berproses pada hal yang diniatkan, dia akan sadar adanya kemudahan ataupun kesulitan, jadi ketika menemukan kesulitan kita tidak perlu kecewa," ungkap Prof. Sri.

Pada buku yang ditulis KH Nasaruddin Umar, Prof. Sri menjabarkan bahwasanya orang yang memiliki niat ikhlas, maka tidak akan merasa kecewa, lelah ataupun frustasi. "Ini memberi pelajaran bagi kita bahwa betapa niat itu merupakan hal yang sangat penting."

Dari penjelasan kedua tokoh di atas, dibedahnya makna sang salik yang berhasil melakukan suluk juga dipaparkan oleh Nur Khayyin Muhdlor, Lc, ME, yaitu ketika seseorang sudah bersih dari segala yang berhubungan dengan materi. "Bahkan setiap langkah perbuatan manusia itu hanya untuk meraih rida Allah SWT," pungkasnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Selengkapnya saksikan di sini.
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.