Foto: Dok. Media Istiqlal

Dialog Zuhur Istiqlal: Anjuran Memperbanyak Amal Kebaikan di Bulan Ramadhan

Administrator 06 Mar 2026 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kamis, 8 Ramadhan 1446 H, KH Ahmad Dzulfatah Yasin, membawakan kajian dari kitab An Nashaih ad-Diniyyah wal Washaya al-Imaniyyah dengan membahas topik anjuran memperbanyak amal kebajikan di bulan Ramadhan.  

KH Dzulfatah membuka kajiannya dengan menyampaikan pesan dari pengarang kitab: "Perbanyaklah amal-amal kebajikan di bulan Ramadhan semampumu." Anjuran ini bukan tanpa alasan. Ada setidaknya tiga hal yang membuat Ramadhan menjadi waktu yang sangat baik untuk beramal.

Pertama, kemuliaan waktunya. Ramadhan adalah bulan yang agung. Kalau kita mengenal empat bulan haram dalam Islam Rajab, Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram maka Ramadan berada di atas itu semua. Di bulan inilah Allah mewajibkan puasa kepada umat-Nya, sebagaimana juga pernah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya meskipun dengan cara yang berbeda.

Kedua, adanya pelipat-gandaan pahala. Di bulan Ramadhan, amalan sunnah dibalas dengan pahala setara amalan wajib (fardhu). Sedangkan amalan wajib dilipatgandakan hingga tujuh puluh kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya. Ini berdasarkan keterangan hadis yang diriwayatkan dari Salman al-Farisi, bahwa Rasulullah saw. pernah berkhotbah di akhir bulan Sya'ban menyampaikan kabar ini.

Ketiga, mudahnya mengerjakan kebaikan. Di bulan Ramadhan, nafsu yang biasanya mendorong kepada keburukan menjadi terkungkung oleh rasa lapar dan haus. Setan-setan yang biasa menghalangi orang berbuat baik pun terbelenggu, sehingga kesempatan untuk beramal saleh terbuka lebih lebar.

KH Dzulfatah menggambarkan Ramadhan sebagai sebuah peluang bisnis yang tidak akan pernah merugi. Ia merujuk pada QS. Fatir ayat 29, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (Qs. Fatir ayat 29)

"Biasanya orang kejar-kejar bisnis yang menguntungkan. Bedanya, urusan akhirat ini tidak kelihatan. Kalau urusan dunia tampak jelas nominalnya. Tapi urusan akhirat adalah iman yang berbicara hati kita, jiwa kita sejauh mana kita beriman dengan apa yang dijanjikan Allah," kata KH Dzulfatah.

Karena itu, lanjutnya sebagaimana mengutip sabda Rasulullah SAW, 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Dan celakalah (sangat merugi) seseorang yang memasuki bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu (berakhir) sebelum ia mendapatkan ampunan (atas dosa-dosanya)." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

KH Dzulfatah menjelaskan mengapa rasa lapar dan haus di bulan Ramadhan bisa membantu seseorang lebih mudah beramal baik. Ini berkaitan dengan hakikat nafsu manusia. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf ayat 53)

Dalam QS. Asy-Syams ayat 8, Allah juga menerangkan bahwa manusia sejak awal sudah diilhamkan dua potensi:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

Artinya:

“lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya” (Qs Asy-Syams ayat 8)

"Fujur disebutkan duluan. Artinya nafsu ini memang lebih condong kepada hal-hal yang buruk. Seseorang mengerjakan keburukan itu mungkin lebih mudah daripada kebaikan, lebih tidak terkendali. Nah, di bulan Ramadhan, dengan lapar dan haus itulah nafsu menjadi lebih jinak," jelas KH Dzulfatah.

Kualitas Ibadah Nampak pada Perilakunya

Dalam kajiannya, KH Dzulfatah juga membahas kualitas ibadah dan dampaknya pada perilaku. Sebagaimana yang ditanyakan seseorang, mengapa ada orang yang rajin shalat tapi masih bisa menipu atau merugikan orang lain? 

Atas pertanyaan tersebut, menurut KH Dzulfatah, kembali pada kualitas shalatnya itu sendiri, apakah sudah sesuai syarat dan rukunnya, dan apakah sudah dikerjakan dengan khusyuk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-'Ankabut ayat 45 tentang fungsi shalat:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya:

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-‘Ankabūt ayat 45)

Hal yang sama berlaku untuk puasa. Orang yang berpuasa itu ada tiga golongan. "Ada shaumul awam  puasa kebanyakan orang, cuma menahan lapar dan haus saja. Ada shaumul khusus dia juga menjaga lisan dan anggota tubuhnya. Dan ada shaumul khususil khusus yang paling tinggi, hatinya pun ikut berpuasa dari segala sesuatu selain Allah," terangnya.

KH Dzulfattah menegaskan bahwa Allah tidak butuh puasa orang yang hanya lapar dan hausnya saja, sementara lisannya tetap berkata buruk, berdusta, dan menyakiti orang lain. Rasulullah saw. telah mengingatkan: barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.

KH Dzulfatah mengingatkan bahwa sebagaimana pahala kebaikan berlipat ganda di bulan Ramadhan, dosa yang dilakukan di waktu-waktu yang utama pun akan lebih besar. Ia merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 30:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْر

Artinya:

“Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, pasti azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Hal yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Aḥzāb ayat 30)

"Jadi perbuatan ketaatan di Ramadhan dilipatgandakan, begitu pula keburukan dan kemaksiatan yang dilakukan di bulan-bulan utama dosanya pun lebih besar dari bulan-bulan selain itu. Maka hati-hati," pesannya.

Untuk memotivasi jamaah, KH Dzulfatah menceritakan bagaimana Rasulullah saw. justru semakin meningkatkan ibadahnya di bulan Ramadhan, terutama di sepuluh hari terakhir. Aisyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah yang beribadah sampai kedua kakinya bengkak  padahal dosanya sudah diampuni oleh Allah. Nabi menjawab:

"Afala akuna 'abdan syakura — Tidakkah sepantasnya aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?"

"Rasulullah sudah dijamin, tapi beliau beribadah kepada Allah secara maksimal. Apatah lagi kita yang dosa-dosanya entah sebanyak apa. Maka manfaatkan Ramadhan ini dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari sampai akhir Ramadan. Di sepuluh hari terakhir, tingkatkan lagi i'tikaf, qiyamul lail dengan harapan bisa mendapatkan Lailatul Qadar," katanya.

 KH Dzulfatah menutup pemaparan materinya dengan mengajak jamaah untuk rutin membaca doa yang diajarkan Rasulullah saw.: Ya Allah, berilah aku kemampuan untuk selalu ingat kepada-Mu, selalu bersyukur atas nikmat-Mu, dan selalu memperbaiki ibadahku kepada-Mu.

Jika seseorang istiqomah menjalankan ini, beliau menyebut ia akan mencapai apa yang digambarkan Allah di penghujung QS. Al-Fajr:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang,Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-ku, Dan masuklah kedalam surga-Ku!” (Qs. Al-Fajr ayat 27-30)

"Kalau kita istiqomah dengan ibadah ini, akhirnya kita akan menjadi hamba Allah yang muthmainnah  tenang jiwanya. Dan kalau itu sudah tercapai, insyaallah kita dimatikan dalam khusnul khatimah," kata KH Dzulfatah.

Pada sesi tanya jawab, Khairuddin dari Tambora, Jakarta Barat, mengajukan tiga pertanyaan seputar materi yang disampaikan: pertama, mengapa kemaksiatan masih terjadi di Ramadhan padahal setan dikatakan terbelenggu; kedua, bagaimana menyikapi ibadah yang lahirnya baik tapi di dalamnya ada ujub atau takabur; dan ketiga, bagaimana hitungan pahala dan dosa bagi orang yang ibadah rajin sekaligus maksiat rajin di bulan Ramadhan.

Merespons pertanyaan pertama, KH Dzulfatah menjelaskan bahwa "setan dibelenggu" itu bersifat kiasan (majazi). Setan mungkin tidak bisa menggoda secara langsung seperti biasanya, tapi nafsu dari dalam diri manusia sendiri tetap bisa menjadi sumber keburukan.

"Ibarat orang yang diikat di tiang secara fisik dia tidak bisa bergerak, tapi secara omongan masih bisa. Jadi pengaruhnya tetap ada. Yang menyebabkan amarah bissu berkurang itu justru rasa lapar dan hausnya. Maka ketika seseorang betul-betul berpuasa karena Allah, insyaallah godaan itu akan berkurang," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang yang memang sudah terbiasa maksiat dan tidak mau bertobat, di Ramadhan pun bisa jadi tetap melakukan kemaksiatan bahkan bisa lebih banyak. Itulah yang dimaksud Rasulullah dengan "orang yang sangat merugi".

Untuk pertanyaan kedua soal ujub dan takabur, KH Dzulfatah mengingatkan bahwa Allah tidak melihat fisik seseorang, melainkan hatinya. Di zaman media sosial seperti sekarang, batas antara ikhlas dan riya memang sangat tipis. Beliau menganjurkan tiga langkah yang dikenal dalam tasawuf: takhalli mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, sombong; tahalli  mengisi dengan sifat-sifat terpuji sebagai gantinya; dan tajalli  ketika hati sudah bersih, seseorang akan merasakan kehadiran Allah dalam kesehariannya.

Untuk pertanyaan ketiga soal hitungan pahala-dosa, KH Dzulfatah merujuk pada QS. Al-A'raf ayat 44–49 tentang Ashabul A'raf orang-orang yang amal kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka digambarkan berada di tempat antara surga dan neraka, dan pada akhirnya dengan rahmat Allah dimasukkan ke dalam surga.

"Kita jangan sampai menjadi ashabul a'raf. Cari amannya saja beramal dengan mengharap ridha Allah, bukan karena menghitung-hitung pahala. Wallahualam bishawab," pungkasnya.

Sebelum menutup, KH Dzulfatah menyisipkan satu pesan yang dianggap penting: istiqomah setelah Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa banyak orang semangat beribadah selama Ramadan, tapi begitu masuk Syawal semuanya surut lagi.

"Jangan sampai Ramadhan ini hanya bulan latihan. Ini bulan pertandingan. Niatkan amalan-amalan yang kita lakukan di Ramadhan ini akan kita lanjutkan di luar Ramadhan. Itulah yang dijanjikan Allah — istiqomah. Memang berat, tapi itu yang penting."

Ia menutup dengan mengingatkan sebuah doa yang dianjurkan untuk diamalkan, merujuk pada firman Allah dalam QS. Saba':

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ 

Artinya:

“Mereka (para jin) selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan kehendaknya. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (Qs. Saba'  ayat 13)

"Saya sering berdoa: Allahumma waj'alni minal qalil Ya Allah, jadikanlah aku termasuk yang sedikit itu. Maksudnya, jadikan aku termasuk hamba yang mau bersyukur. Karena bersyukur itu bukan sekadar mengucap alhamdulillah, tapi diaplikasikan dalam tindakan: adil kalau jadi pejabat, banyak bersedekah kalau punya harta, dan seterusnya," kata KH Dzulfatah mengakhiri pengajian siang itu.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.