Oleh : Mayjen TNI (Pur) Dr. KH. Ahmad Yani Basuki, M.Si
Kaum Muslimin rahimakumullah.
Dari dalamnya rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah subhanahu wata'ala yang tiada terhingga, yang melekat dalam diri dan kebersamaan kita, marilah kita manfaatkan nikmatnikmat tersebut untuk sebesar-besarnya jalan menuju takwa kepada Allah subhanahu wata'ala. Yaitu dengan senantiasa saling ingat-mengingatkan dan bantu membantu dalam upaya menjalankan segala perintah Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Yang demikian ini karena kita sama-sama meyakini, Allah subhanahu wata'ala telah menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemulyaan manusia di hadapan-Nya. Allah subhanahu wata'ala jadikan pula ketakwaan sebagai kunci pengurai permasalahan hidup manusia.
Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang risalahnya telah mengangkat derajat manusia dari alam jahiliah ke dalam kehidupan dunia yang berkeadaban.
Hari ini kita masih berada di bulan Agustus, bulan bersejarah bagi kita bangsa Indonesia. Sembilan hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2022 telah kita laksanakan upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kekhidmadan. Kita laksanakan pula serangkaian kegiatan peringatan ke-77 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Substansi peringatan itu tidak lain adalah ungkapan rasa syukur kita atas besarnya nilai nikmat kemerdekaan bagi keberadaan dan kelangsungan kehidupan bangsa ini. Juga sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas jasa-jasa para pejuang pendahulu kita, yang telah rela berkorban jiwa raganya dalam mewujudkan kemerdekaan tersebut. Kita semua yakin bangsa yang merdeka dan maju, pastilah karena di topang oleh warganya yang patriotis (berjiwa juang yang tinggi) dan cinta tanah air.
Bagi umat Islam, cinta tanah air dan berjiwa patriotis adalah merupakan sunnah Rasul. Dalam hal ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal sangat mencintai tempat kelahirannya, yaitu Makkah dan juga mencintai tempat melaksanakan dakwah setelah hijrahnya, yaitu Madinah. Ekspresi cintanya kepada Makkah terbaca dalam sabdanya yang artinya : “Alangkah indahnya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri dan betapa dalamnya cintaku kepadamu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR. Ibnu Hibban).
Sementara cintanya kepada Madinah, tempat hijrahnya, terimplementasi dalam kesungguhannya membangun masyarakat yang berkeadaban di tempat ini. Ditempat ini beliau melahirkan Piagam Madinah. Sebuah piagam kesepakatan yang mampu menyatukan keberagaman dalam satu kesatuan kehidupan bersama yang maju dan berkeadaban. Demikianlah cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada tanah airnya dan patriotismenya dalam mewujudkan masyarakat yang damai, adil dan sejahtera di negeri tempat tinggalnya. Ini juga yang meneguhkan bahwa cinta tanah air itu adalah bagian dari iman.
Kaum Muslimin rahimakumullah.
Dari dalamnya rasa cinta tanah air, lahir semangat juang, rela berkorban jiwa dan raga demi kejayaan bangsa dan negaranya. Dari keringat para pecinta tanah air dan tetesan darah para patriot bangsa, nikmat kemerdekaan dapat diraih. Nikmat yang membuka ruang kebebasan bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasib dan masa depannya sendiri, terbebas dari belenggu penjajah.
Kristalisasi nilai patriotisme dan cinta ranah air tersebut telah tersurat dalam Pembukaan UUD 1945: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Bagi umat Islam, berjuang dan juga berdoa untuk kejayaan bangsa dan negaranya adalah suatu keharusan. Sebagaimana Nabi Ibrahim juga memberi contoh, beliau berjuang dan senantiasa berdoa untuk keamanan dan kemakmuran negerinya, sebagaimana diabadikan di dalam al-Quranul karim :
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٢٦
(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. al-Baqarah : 126).
Allah subhanahu wata'ala mengabulkan perjuangan dan doa Nabi Ibrahim, sehingga negeri atau kota Mekkah yang tadinya tandus, kering kerontang dan banyak permasalahan, menjadi tempat yang aman dan kaya sumber alam dan sumber kesejahteraan bagi penduduknya, seta banyak dikunjungi bangsabangsa di dunia untuk beribadah dengan tenang di sana.
Dalamnya rasa cinta tanah air dan kesadaran akan hak-haknya sebagai warga bangsa telah melahirkan patriot-patriot bangsa yang bersatu padu menjadi kekuatan yang mampu mengusir penjajah dan menghadirkan kemerdekaan. Banyak diantara para patriot atau pejuang bangsa tersebut berasal dari ulama dan para santri dari pesantren-pesantren di seluruh pelosok tanah air. Mereka ikhlas berjuang tanpa pamrih, mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan dan kejayaan masa depan bangsa. Mereka sadar bahwa perjuangan membela tanah air adalah panggilan Tuhan dan juga sebagai kehormatan. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٤١
"Berangkatlah kamu (untuk berperang), baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. at-Taubah : 41).
Banyak Ulama, cendekiawan muslim bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya yang gugur di medan juang. Mereka dikenang sepanjang masa, tidak pernah hilang keharuman namanya sebagai pahlawan bangsa. Dalam hal ini Allah subhanahu wata'ala telah menegaskan dalam firman-Nya:
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ ١٥٤
"Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. al-Baqarah : 154)”.
Demikianlah Allah subhanahu wata'ala menempatkan orangorang yang mencintai tanah airnya dan memiliki jiwa patriotisme, yang rela berjuang mengorbankan jiwa raga demi bangsa dan negaranya, mereka tergolong orang-orang yang mulia di hadapan Allah subhanahu wata'ala, dan Allah subhanahu wata'ala menjaga keharuman namanya sebagai teladan bagi manusia sepanjang masa.
Kaum Muslimin rahimakumullah.
Sebagai generasi penerus kita sadar bahwa setiap generasi akan disertai zamannya, dan setiap zaman akan disertai generasinya. Namun telah tertanam pula dalam diri kita, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat-kalimat bijak ini mengingatkan kita bahwa perubahan tantangan dan perjuangan pada suatu masa itu adalah sebuah keniscayaan. Tetapi berpegang teguh dan menjaga jati diri bangsa itu adalah juga suatu keharusan. Oleh karena itu change and continuity (perubahan dan kesinambungan) haruslah selalu menjadi perhatian kita semua. Mana yang mungkin dan harus berubah sehingga bangsa ini mampu menjadi bangsa maju dan berdaya saing, dan mana yang semestinya dan harus tetap terjaga kesinambungannya agar bangsa ini tidak tercerabut dari nilai-nilai luhur dan jati dirinya.
Di era derasnya arus informasi seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi di era global saat ini, kita merasakan adanya perang baru yang mengarah pada perang “mindset”. Yaitu perang untuk mempengaruhi cara berpikir dan juga cara bertindak seseorang dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun bidang sosial dan budaya. Menghadapi tantangan ini diperlukan kecermatan, kewaspadaan dan kecerdasan warga bangsa, karena ideologi, pesan ataupun ajaran yang mereka bawa belum tetntu sesuai dengan ideologi, budaya dan jati diri bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Menghadapi dan menjawab tantangan tersebut, maka menjadi keharusan bagi generasi penerus pejuang bangsa untuk sungguh-sungguh meneguhkan persatuan dan kesatuan dalam membangun dan meninggalkan generasi yang kuat dan berkarakter, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan mampu mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera dan berdaya saing dalam persaingan global sebagai negara maju. Dalam hal ini Allah subhanahu wata'ala memperingatkan dalam firman-Nya:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
"Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)." (QS. Annisa' : 9).
Untuk itu, diantara hal penting yang harus kita lakukan dan implementasikan sebagai wujud cinta tanah air dan patriotisme kita di era global saat ini adalah perjuangan untuk membangun dan mewariskan generasi yang berkarakter dan profesional. Yaitu:
1. Generasi yang beriman dan berilmu, keimanan dan keilmuan adalah dua prasyarat yang dituntut oleh Allah subhanahu wata'ala dalam mengangkat seseorang dan suatu bangsa pada derajat yang tinggi dan berdaya saing. Keimanan atau keyakinan yang kuat akan melahirkan generasi yang tangguh, yang memiliki semangat juang dan ikhlas berkorban demi kejayaan bangsa dan negaranya. Sementara keilmuan dan wawasan yang luas akan melahirkan generasi yang memiliki skill dan profesional dalam berbagai bidang kehidupan yang diperlukan dalam pembangunan bangsa ini. Sebagimana dijanjikan Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Mujadalah 11).
Dalam hal ini hanya orang-orang yang beriman dan berilmulah yang dipandang Allah subhanahu wata'ala mampu membawa perubahan, yaitu perubahan menuju kemajuan dan kebaikan atau kemaslahatan hidup. Bukan perubahan yang membawa kerusakan. Orang-orang yang beriman dan berilmu yang dinilai Allah subhanahu wata'ala mampu diamanati untuk menjadikan dunia ciptaan Allah subhanahu wata'ala sebagai rahmat bagi semesta alam.
2. Generasi yang bertakwa, yaitu generasi yang memiliki disiplin tingggi, yang taat azas, taat hukum dan taat pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam konteks hablun minallah maupun hablun minannas. Karakter takwa merupakan tonggak penyangga tegaknya suatu bangsa yang kuat dan maju.
Ketakwaan juga merupakan kunci penting untuk menguraikan dan menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh suatu bangsa. Ketakwaanlah yang akan mendatangkan ridla, karunia dan limpahan rahmat dari Allah subhanahu wata'ala. Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (QS al-A'raf : 96).
Dalam ayatnya yang lain Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢...
"...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya," (QS. at-Thalaq : 2).
3. Generasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran yang akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga.”
Dalam hal ini kita yakin, tidak ada keamanan dan kedamaian dalam kehidupan, tanpa tegaknya kebenaran, kejujuran dan keadilan. No justice no peace.
Demikianlah tanggung jawab suatu bangsa yang menghendaki kebaikan bagi masa depan bangsa dan negaranya. Yaitu menyiapkan diri dan generasi yang kuat lahir batin, jasmani dan rohani, yang cerdas, bertaqwa dan menjunjung tinggi kebenaran sehingga mampu berkarya nyata dalam kemajuan dan kemaslahatan dan berdaya saing dalam tantangan global.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi contoh, bagaimana beliau memimpin dan membangun kebesaran umatnya dengan empat karakter atau akhlak mulianya, yaitu Shidiq (menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan), Amanah (dapat dipercaya, tidak berkhianat), Tabligh (menyampaikan apa yang harus disampaikan, tidak ada kecurangan) dan Fathanah (Cerdas, berilmu). Dengan karakter dan akhlak mulianya itulah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhasil membangun peradaban dunia, merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang berkeadaban.
Demikianlah Islam menanamkan dan menjunjung tinggi Nilai Patriotisme dan Cinta Tanah Air. Semoga kita senantiasa dalam bimbingan, petunjuk dan pertolongan Allah subhanahu wata'ala dan diberi kemampuan untuk terus berbuat yang tebaik untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Bersama-sama mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dalam naungan ampunan dan ridla Allah subhanahu wata'ala. Baldatun thoyyibatun warabbun ghofuur. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.