Foto: Dok. Media Istiqlal

Majelis Taklim Pemuda Istiqlal, Hakikat Merdeka Seorang Pemuda

Admin 22 Aug 2022 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal (ARMI) selenggarakan Majelis Taklim Pemuda Istiqlal (MTPI) ke-7, dengan bahasan "Hakikat Merdeka Seorang Pemuda", di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (21/8).

Tema 'Hakikat Merdeka Seorang Pemuda' ditujukan sebagai pengingat bagi para pemuda, khususnya pemuda muslim, untuk memahami hakikat merdekanya. "Sebagai generasi muda, kita perlu memastikan bangsa kita untuk tetap bersatu. Karena kita tidak akan memiliki kekuatan jika tanpa adanya persatuan. Sehingga tugas utama para pemuda saat ini adalah menjaga persatuan bangsa ini (Indonesia)," ujar Wakabid Penyelenggara Peribadatan BPMI H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA, dalam sambutannya di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta.

Pembicara Ustaz Muhammad Saihul Basyir, Lc, juga menyampaikan bahwasanya perenungan hakikat kemerdekaan juga bisa kita dapati dalam Al-Quran. "Terdapat satu surat khusus di dalam Al-Qur'an yang membahas tentang negeri (dalam hal ini Mekkah), yaitu Al-Qur'an surat Al-Balad," ungkapnya.

"Pada Al-Qur'an surat Al-Balad, Allah SWT ingin mengingatkan Nabi Muhammad SAW tentang tanah airnya, yaitu kota Mekkah (yang) memiliki kemuliaan, dan Allah SWT juga ingin mengingatkan kita melalui lisan Rasulullah SAW, bahwasanya kita mesti merenungi kemerdekaan yang sesungguhnya," lanjut Ustaz Saihul.

Kemerdekaan hakiki juga bukan bermakna kita dapat membebaskan diri begitu saja, karena kita memiliki jati diri, yaitu sebagai warga bangsa dan umat muslim.

"Pertama, jati diri kita sebagai warga negara Indonesia, mendorong kita untuk memiliki kemerdekaan, kebebasan untuk berbicara, berkarya, belajar, dan memiliki keyakinan apaun. Namun di sisi lain jati diri kita sebagai seorang muslim yang berpedoman Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, kita dibatasi oleh hal-hal yang Allah SWT wajibkan dan haramkan," terang Ustaz Saihul.

Pemaparan di atas dilengkapi dengan hadist yang disampaikan Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya. Barangsiapa yang menghindari perkara syubhat (samar-samar), maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar, maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki larangan (undang­undang). Ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati."  [Diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafazh Muslim].

Hakikat merdeka sebagai warga negara juga dapat kita lihat dalam Pancasila dan UUD 1945, di mana setiap poinnya berpaut dengan yang diterangkan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan sunnah. "Maka kemerdekaan kita dibatasi dalam dua itu, yaitu sebagaimana yang diterangkan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan sunnah, dan hal yang sudah menjadi kesepakatan di negara yang kita cintai, Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Di samping itu, Pemateri MTPI Habib Geys Bin Abdurrahman Assegaf juga mengingatkan bahwasanya merdeka juga bisa diraih dengan memerdekakan jiwa. "Hati yang merdeka ialah ketika kita terikat kepada Allah SWT, dan cara kita terikat dengan-Nya ialah dengan berdzikir."

Selain itu, Habib Geys juga menyebutkan, bahwa pemuda yang merdeka juga harus visioner, memiliki tujuan, baik tujuan dekat atau jauh, dan tujuan jauh yang mulia ialah menjadi manusia yang bermanfaat. Selain itu, pemuda juga perlu memiliki sikap yang sederhana, ikhlas dan tidak mengejar pujian manusia, berkumpul dengan orang shalih dan gemar berdzikir. "Pujian manusia sebagaimana fatamorgana. Sehingga kita perlu memiliki keikhlasan, dipuji tidak terbang dicaci tidak tumbang."

Dengan ciri pemuda yang merdeka di atas, Habib Geys juga berpesan agar kita dapat terus memuliakan kemerdekaan dengan menjadi pemuda yang unggul, seorang figur yang dapat menjadi tauladan. "Muliakanlah kemerdekaan ini dengan menjadi anak yang shalih dan shaliha, anak bangsa yang visioner, mau berkontribusi untuk bangsanya." (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.