Oleh : Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH, MM
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah Khatib dengan segala kekurangannya mengajak kita semua untuk meningkatkan ketaqwaan kita dengan terus bersyukur atas limpahan nikmatNya yg banyak . Mari kita bershalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad saw, sembari kita tingkatkan kepedulian serta keberfihakan kita untuk kemajuan Risalah Dakwah Rasulullah SAW. Insya Allah semua yang kita lakukan untuk kemajuan dakwah Rasulullah SAW akan menjadi tabungan terbaik kita utk kita nikmati setelsh kita meninggalkan dunia yg fana ini. Amiin
Jamaah Jumat rahimakumullah Kita perlu menyadari bahwa waktu ini terus berlalu dan tidak akan pernah kembali. Pertambahan tahun jumlah usia kita bertambah tapi sebetulnya porsi usia kita makin berkurang, terminal kematian kitapun semakin mendekat, Itulah sebabnya penting sekali memanfaatkan waktu sebaik mungkin, lebih-lebih kita tidak pernah melewatkannya, dengan terus berikhtiar mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Iman dan takwa adalah sebagai bekal terbaik kita di dunia ini sebelum harus kembali kepada Sang Khaliq. Ada satu maqalah agar kita tidak menyia-nyiakan waktu ini, sekaligus menjadi pengingat penting untuk kita semua.
تضم يتلا مايلأا عجرت نل Artinya, “Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu.” [Maqalah]
Ini adalah peringatan bagi kita semua khususnya untuk memanfaatkan waktu sebaik baiknya. Waktu terus mengalir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia tak akan dapat terlunasi selamanya. Hari Jumat barangkali akan datang lagi pada minggu-minggu berikutnya, namun Jumat hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya.
Jamaah Jumat rahimakumullah Menyadari tentang waktu yang tak akan pernah berulang, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengisinya dengan segala hal yang bermanfaat. Hidup ini sejatinya hanya menunggu waktu, sementara kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Yang pasti usia kita terus berkurang terkikis oleh pergantian waktu.
Oleh karena itu, di sisa usia yang diberikan Allah ini mari kita gunakan sebaik-baiknya dengan amal saleh. Kematian tidak pernah memihak dan berkompromi terhadap usia. Anak-anak, tua, muda bila waktunya sudah tiba, kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Rasulullah saw pernah ditanya oleh para sahabat perihal paling baik dan buruknya manusia. Kemudian Nabi SAW menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang oleh Allah diberikan umur panjang, kemudian digunakan untuk melakukan kebaikan.
Sebaliknya, paling buruk manusia adalah mereka yang diberikan umur yang panjang, namun panjangnya umur tersebut digunakan untuk keburukan. Hadits ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam karyanya Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, Nabi bersabda:
؟رش سانلا يَف :ليق .هلمع نسح و رمع لاط نم :لاق ؟ريخ سانلا يأ :لئس هنأ ملسو هيلع هللا ىلص هنع يذمرتلا يفو هلمع ءاس و رمع لاط ن م :لاق Artinya,
“Dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Rasulullah saw bahwa ia pernah ditanya: siapakah paling baiknya manusia? Nabi menjawab: orang yang dikaruniai umur panjang dan baik (benar) perbuatannya. Ditanyakan lagi: Dan siapakah paling jeleknya manusia? Nabi menjawab: orang yang panjang umurnya dan jelek perbuatannya.”
Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa umur yang panjang tidak hanya menjadi nikmat dari Allah swt, tetapi juga menjadi penentu kebaikan dan keburukan manusia. Mereka yang dikaruniai umur panjang, kemudian umur tersebut digunakan untuk mengerjakan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan terus konsisten dalam ketaatan, maka termasuk dalam golongan paling baiknya manusia.
Hal demikian karena mereka telah dikaruniai umur panjang dan berhasil menggunakannya untuk kebaikan. Begitu juga sebaliknya, orang yang dikaruniai umur panjang oleh Allah namun tidak ada tambahan kebaikan sama sekali dalam hidupnya, justru selalu melakukan keburukan, kemaksiatan, melanggar perintah-perintah Allah, dan tidak pernah menunaikan kewajiban-Nya, maka orang ini termasuk dalam golongan orang-orang yang buruk.
Oleh karena itu, marilah jadikan setiap waktu yang terus berlalu ini sebagai momentum untuk merenungi hakikat umur yang telah diberikan oleh Allah swt. Sudahkah tambahan umur juga menjadi perantara untuk menambah kebaikan, menambah ibadah dan ketaatan? Atau justru sebaliknya, kemaksiatan terus bertambah dan kejelekan terus dilakukan.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam salah satu karyanya mengatakan, bahwa bertambahnya umur dan kebaikan menjadi barometer keimanan seseorang. Karena orang-orang yang beriman akan terus bertambah kebaikannya seiring dengan bertambahnya umur.
Dalam kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan:
توملا نم هل ريخ ةاي حلاف كلذك ناك نمو اريخ َإ رمع لوطب دادزي َ ناميلْا طورشب مئاقلا نمؤملاف
Artinya, “Maka orang beriman yang menunaikan semua ketentuan-ketentuan iman, tidak akan bertambah dari panjangnya umur selain (juga bertambah) kebaikan. Dan, siapa saja yang bisa seperti ini, maka hidup (di dunia) lebih baik baginya daripada mati.” (Ibnu Rajab, Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, [Kairo, Darul Hadits: 2002], halaman 302).
Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita semua agar senantiasa berdoa kepada Allah, menjadikan hidup di dunia sebagai ajang untuk selalu menambah kebaikan. Adapun lafal doanya adalah sebagai berikut:
رش لك نم يل ةحار توملاو ريخ لك يف يل ةدايز ةايح لا لعجا مهللا
Artinya, “Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini sebagai nilai tambah bagiku dalam semua kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari segala kejahatan.” (HR Muslim, dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif.
Semoga saja waktu yang telah berlalu menjadi pelajaran dan kebaikan bagi kita semua, sembari kita bertekad hari hari kedepan lebih baik dari hari ini dan hari yang lalu. Ada sebuah hadits Rasulullah saw yang memberikan pengingat bagi kita, beliau bersabda :
نو علم وهف هسمأ نم ارش هموي ن اك نمو .نوبغم وهف هسمأ لثم هموي ناك نمو .حبار وهف هسمأ نم اريخ هموي ناك نم
Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).
Allah SWT juga sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 18:
ا نا هللا اوقتاو دغل تمدق ام سفن رظنتلو هللا اوقتا اونما نيذلا اهياي نولمعت امب ريبخ هلل
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang telah kamu kerjakan."
Untuk mengakhiri khutbah ini mari kita renungi pesan Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Hakim:
نغو ،كمقس لبق كتحصو ،كمره لبق كبابش :سمخ لبق اسمخ منتغا لبق كتايحو ،كلغش لبق كغارفو ،كرقف لبق كءا كتوم
Artinya, “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sehatmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”