Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Tauhid Jalan Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Admin 21 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. Tgk. Amri Fatmi, Lc. MA
(Intisari Khutbah Jum’at, 21 November 2025 M / 30 Jumadil Ula 1447 H)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Saudaraku seiman... Tauhid Sebagai Landasan Keyakinan Dasar dari setiap pandangan hidup adalah suatu bentuk khusus dari keyakinan, persepsi, dan penilaian terhadap eksistensi. Hal ini bergantung pada jenis tertentu dari penafsiran, analisis, takwil, pemahaman, dan penalaran. Setiap prinsip memiliki kesan tertentu dan pola pikir yang khas terhadap alam semesta dan keberadaan. Inilah yang menjadi landasan, dasar, dan latar belakang intelektual yang membentuk prinsip tersebut.

Referensi Islam atau pandangan Islam terhadap alam semesta dan kehidupan adalah pandangan tauhid. Artinya, kita memandang keberadaan, dunia, sejarah, dan realitas dari sudut pandang Islam— dari perspektif tauhid yang dibawa oleh Islam.

Tauhid adalah akidah, yaitu sebuah pandangan menyeluruh tentang keberadaan. Hal ini telah disinggung oleh banyak ulama Muslim. Para Ulama Akidah sepakat bahwa tauhid adalah inti akidah islam dan substansi islam. Tauhid adalah keyakinan dan hakikat Iman kepada pencipta yang berhak disembah.

Secara keilmuan, para ulama akidah telah banyak mendefinisikan Tauhid demi mejaga kemurnian akidah islam dan keistimewaannya. Imam Burhanuddin Al-Laqqani (1041 H) menyebutkan Tauhid bermakna keharusan meyakini keesaan Allah secara zat, sifat dan tindakan. Imam Abdul Karim Al-Syahrrastani (548 H) berkata: Hakikat Tauhid adalah tidak adanya persekutuan dalam hal ketuhanan dan kekhususannya (Burhanuddin Al-Laqqani, Syarah Jauharatu Tauhid, 1/88).

Tauhid adalah penengasan akan keyakinan murni akan keesaan pencipta dalam semua sifat dan keistimewaan ketuhanan. Al-Quran Sangat tegas dalam banyak ayat meyuruh semua manusia untuk mengakui akidah Tauhid. Sebagaimana firman Allah :

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Artinya : “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah : 163).

... فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ࣖ

Artinya : “... Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak.” (QS. An-Nisa : 171)

Syeikh Muhmmad Al-Ghazali (1996) menjelaskan bahwa tauhid adalah ruh islam dan subtansi akidah islam serta poros ibadah islam. Tauhid itu mengalir dalam semua ajaran islam seperti air yang mengalir pada akar pohon dan seperti saraf pada tubuh manusia. (Muhammad Al Ghazali, Akidatu Al Muslim, h. 61).

Secara tegas islam menolak persepsi apa saja dan keyakinan apapun yang bertentangan dengan makna tauhid. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

... اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

Artinya : “... Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Mā'idah [5] : 72)

Tauhid Sebagai Akidah bagi Kesuksesan kehidupan Dunia

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperkenalkan Islam pada orang kafir Qurays, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengajarkan mereka prinsip dan kunci kesuksesan bagi mereka di dunia. Sulit diterima akal kalau agama terbaik dari pencipta dan risalah terakhir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bila tidak menjamin kesuksesan dunia. Makanya diawal Nabi berdakwah beliau menawarkan pada Orang Qurays kalimah Tauhid lewat pemuka Arab, maka dengan keimanan tauhid mereka dijanjikan akan berkuasa di jazirah Arab dan sekitarnya.

Ketika pemuka Qurays mendatangi Abu Thalib untuk mengajak berunding dengan Nabi Muhammad SAW di Mekah, perihal dakwah Tauhid yang dibawakan oleh Nabi. Mereka mengajak berunding agar Nabi menhentikan dakwah Beliau tersebut.

Namun Rasulullah merespon dengan bersabda pada paman Beliau : "Wahai pamanku, satu kata saja yang jika kalian mengucapkannya, kalian akan menguasai bangsa Arab dan bangsa non-Arab akan tunduk kepada kalian." Abu Jahal menjawab: "Ya, demi ayahmu, bahkan sepuluh kata pun!" Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Kalian mengucapkan: Lā ilāha illallāh (Tiada Tuhan selain Allah), dan kalian meninggalkan apa yang kalian sembah selain-Nya." Maka mereka bertepuk tangan dengan tangan mereka, lalu berkata: "Wahai Muhammad, apakah engkau ingin menjadikan semua tuhan menjadi satu Tuhan saja? Sungguh ini adalah sesuatu yang mengherankan!" (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa An-Nihayah, 3/120)

Dari awal Rasulullah menegaskan pada orang pemuka Qurays, kalau kalimah Tauhid itu akan mengubah peta dunia, akan menjadikan bangsa maju dan berkuasa di dunia. Bangsa Arab yang bercerai-berai dan tidak memiliki kekuasaan di depan imperium Romawi dan Persia akan mampu berkuasa di dunia dengan syarat meyakini akidah tauhid. Tapi sayang mereka tidak meyakini dan menolak ajakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan dalam kondisi terpuruk di dunia ini yang bisa dialami seseorang, kalimat Tauhid akan menyelamatkannya dengan izin Allah. Inilah yang diajarkan Allah pada kita dari kisah Zun-Nun (Nabi Yunus) dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

Artinya : “(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyā' [21]: 87)

Apa saja Nilai-Nilai pembentuk kepribadian yang dikandung Tauhid sehingga menentukan kesuksesan di dunia?

1. Visi Kehidupan yang Jelas

Dengan akidah tauhid, muslim meyakini telah diciptakan pencipta lalu pencipta telah menjadikannya untuk sebuah misi yang jelas pula. Tidak untuk sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya : "Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (QS. Al-Mu'minun : 115)

Akankah sama pribadi dan kualitas hidup mereka yang memiliki tujuan jelas dalam hidup dengan mereka yang tidak memiliki tujuan akhir? akankah sama mereka yang membawa misi besar dalam hidup dengan mereka yang hidup hanya untuk kepentingan pribadinya? Amatlah jauh berbeda. Itulah muslim yang bertauhid. Kesuksesan hidup dimulai dari misi besar hidup untuk bersama.

Jiwa yang Damai

Kesuksesan suatu usaha tidak dilahirkan dari pelaku yang cemas, takut dan gelisah. Kesuksesan dalam berkarya hanya lahir dari pribadi yang tentram dan dan damai jiwanya. Maka tauhid kepada Allah bekerja secara otomatis mnentramkan jiwa penganutnya.

Keyakinan pada satu kuasa yang tunggal dan absolut yang memiliki pengetahuan kebijaksanaan, kekuasaan tak terbatas serta mengendalikan segala hal memauat manusia merasa aman dan tentram.

2. Menumbuhkan kejujuran dan tanggung jawab

Seseorang yang bertauhid dengan benar akan jujur dan bertanggung jawab dalam bekerja. Karena seorang mukmin yang bekerja meyakini bahwa pekerjaannnya akan dipantau dan dilihat Allah langsung sebelum dilihta oleh manusia. Dan Allah akan memintanya bertaggung jawab atas semua yang dikerjakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan” (QS. At-Taubah [9]:105).

3. Berkarya tanpa Pamrih

Berkarya tanpa pamrih. Sulit. Namun islam dengan ajaran ketauhidannya mengajarkan ikhlas. Nilai kerja Ikhlas hanya bisa diharapkan dari orang yang beriman. Negara tidak mampu memaksa keikhlasan pada pegawai negeri yang bergaji. Tapi Islam mampu mengajarkan orang yang beriman bertauhid untuk belaku ikhlas dalam setiap tindakannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ

Artinya : Orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang- terangan dan membalas keburukan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik) (QS. Ar-Ra‘d [13]: 22).

4. Berkarya dengan penuh optimisme dan tawakkal

Tauhid menumbuhkan rasa tawakkal dan optimisme pada pribadi orang beriman. Tawakkal ini tidak akan tumbuh tanpa tauhid. Imam Al-Ghazali (505H) menjelaskan tawakkal dengan berkata : “Terpampang jelas bagimu bahwa tidak ada pelaku yang sebenarnya kecuali hanya Allah dan segala sesuatu yang ada baik makhluk, rizki, pemberian atau kehilangan, hidup mati , kaya miskin dan sebagainya semua itu dari ciptaan Allah tidak ada sekutu bagi- Nya. Semua tunduk di bawah kekuasaannya dan tidak ada kekuasaan bagi apapun di alam untuk menggerakkan walau sebutir debu. Semua harapan dan rasa takut dan kepasrahan hanya pada Allah. Inilah tawakkal (Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, 4/309).

Dengan tauhid dan tawakkal, seseorang memiliki kekuatan lebih dalam mengarungi kehidupan dan menantang segala kesulitan dalam berkreasi. Rintangan dan tantangan yang terlihat di matanya akan kecil dan ringan dibandingkan rasa yakin dan percayanya pada kuasa Allah yang memiliki kehendak dan kuasa atas segala sesuatu.

5. Masyarakat yang Setara

Akidah tauhid mengajarkan semua orang untuk menghargai orang lain sesama hamba Allah yang memiliki hak asasi yang sama. Tidak merendahkan, menghina serta tidak menyombongkan diri. bahkan saling membantu berbuat amal shalih sesame demi mendapat ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (QS. Al-Hujurāt [49]: 13)

Masyarakat yang terdiri dari pribadi yang bertauhid mesti menjadi masyarakat yang egaliter, maju dan berperadaban. Maka para pakar mengakui bahwa agama adalah pemersatu terbesar manusia dalam sejarah sampai hari ini (Harari, Sapiens, h. 248).

6. Meredam Pengaruh materialistis dan hawa nafsu

Rasa tamak rakus materi dan haus popularitas bertolak belakang dengan kesuksesan hidup. Begitu pula ketergantungan pada materi. Ketergantunagn pada materi dan poluparitas dan cinta harta menyiksa kehidupan seseorang. Seseorang yang tidak berbekal iman tauhid diperbudak oleh nafsunya.

Keyakinan Tauhid kebebasan seseorang dari belenggu materialisme kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (QS. Āli ‘Imrān [3]:14)

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahf [18]: 46).

Tauhid Kunci Kesuksesan Hidup sampai Akhirat

Bukan di dunia saja, akidah Tauhid membimbing pribadi untuk sukses hidup sampai akhirat. Kesuksesan kehidupan akhirat kuncinya adalah kemampuan seseorang sukses hidup bertauhid di dunia. Banyak orang membawa ijazah keberhasilan dalam pendidikan dunia serta penghargaan tinggi dalam prestasi dunia tapi ia gagal dalam ijazah tauhid. Sangat merugi.

Berikut adalah Hadis yang sangat menyentuh tentang keutamaan kalimat tauhid: Lā ilāha illallāh, Muhammadur Rasūlullāh sebegai penentu keselamatan di akhirat yang artinya: Dari Abu Abdurrahman al-Hubuliy bahwa ia telah berkata : Aku telah mendengar Abdullah bin Amru berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa pada hari kiamat, seorang dari umat beliau akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk. Lalu dibentangkan untuknya 99 lembar catatan amal, setiap lembar sejauh mata memandang, penuh dengan dosa.

Allah bertanya: “Apakah kamu mengingkari sesuatu dari ini?”, “Apakah para malaikat pencatat amal menzalimimu?”, “Apakah kamu punya alasan atau satu kebaikan?” Orang itu merasa takut dan menjawab: “Tidak.” Lalu Allah berkata: “Sesungguhnya kamu memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan hari ini tidak ada kezaliman atasmu.”

Kemudian dikeluarkan sebuah kartu kecil (bitāqah) bertuliskan: “Ashhadu an lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasūluh.” Orang itu merasa heran dan berkata: “Ya Rabb, apa arti kartu ini dibandingkan dengan semua catatan itu?” Allah berfirman: “Kamu tidak akan dizalimi.” Lalu ditimbanglah catatan- catatan di satu sisi dan kartu itu di sisi lain. Maka catatan-catatan dosa menjadi ringan dan kartu tauhid menjadi berat. Orang bertauhid dengan benar di dunia akan menghindari dosa besar seperti syirik dan berjudi, mabuk-mabukan dan kabair lainnya. Ini akan menentukan kesuksesannya di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ ۚوَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kemarilah! Aku akan membacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu, (yaitu) janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. (Tuhanmu berfirman,) ‘Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.’ Janganlah pula kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu mengerti. (QS. Al-An‘ām [6]:151)

Secara jelas dan tegas, Rasulullah menjelaskan bagaimana Tauhid yang murni tanpa syirik itu akan menjamin kesuksesan di akhirat dengan masuk syurga.

Artinya : “Siapa saja yang menjumpai Allah tidak menyekutu- kannya dengan sesuatu apapun, ia masuk syurga. Dan siapa yang menjumpai Allah menyekutukannya dengan yang lain, ia masuk neraka (HR. Muslim).

Semoga Allah menganugerahkan kita kesuksesan di dunia dan di Akhirat dengan keteguhan iman tauhid kita.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.